Menelisik Penanganan Sampah Medis Kabupaten Ciamis di Tengah Pandemi

  • Whatsapp

MATTANEWS.CO, CIAMIS – Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, namun juga berdampak negatif terhadap lingkungan.

Di Kabupaten Ciamis Jawa Barat misalnya, selama pandemi Covid-19, sampah medis rumah sakit umum daerah (RSUD) dan beberapa Puskesmas di Kabupaten Ciamis cukup meningkat. Yang didominasi, masker dan APD bekas pakai petugas medis, serta sisa makanan pasien Covid-19, dan petugas kesehatan.

Kemudian juga tisu bekas, plastik bekas minuman dan makanan, kertas bekas makanan dan minuman, alat suntik bekas, alat infus bekas, sampel laboratorium, alat pelindung diri (APD) bekas, maupun sisa makanan pasien.

Limbah medis tersebut harus mendapatkan penanganan yang serius dan pengelolaan yang baik sehingga dapat meminimalisir penularan penyakit.

Realita dilapangan justru cukup memprihatinkan. Seperti penanganan limbah di beberapa Puskesmas di Ciamis yang membuang beberapa jenis limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), terutama limbah dari bekas penanganan Covid-19, yang tidak memperhatikan peraturan dan malah dibuang sembarangan di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Domestik.

Puskesmas Cipaku, Sindangkasih, Rajadesa, Banjarsari yang diduga membuang jenis limbah padat B3 ke TPS Domestik, bahkan dikelola dengan sembarangan dengan cara dibakar.

Jenis limbah padat B3 tersebut diantaranya bekas infusan, botol obat-obatan, jarum suntik dan beberapa sarung tangan yang diduga bekas pakai nakes yang menguburkan jenazah Covid-19 yang meninggal beberapa hari lalu.

Petugas kebersihan di Sindangkasih berinisial AS warga Sindangkasih membenarkan hal tersebut. Dikatakan ia dalam sepekan selalu ditemukan sampah medis dari puskesmas, yang dibuang ke TPS dan tercampur dengan sampah-sampah Domestik.

“Ada kira-kira kalau ditimbang seberat 25 kilogram sampah medis yang dibuang ke TPS oleh pihak Puskesmas dalam kurun waktu seminggu sekali. Ada obat-obatan, masker, dan beberapa sarung tangan, kayaknya itu bekas pakai staf puskesmas,” ungkapnya saat diwawancara dikediamannya Selasa (30/03/2021) lalu.

Menurut keterangannya, sampah-sampah medis yang tergolong limbah B3 tersebut kerap dibuang ke TPS sudah terlampau lama dan tak terhitung.

“Pokoknya semenjak bangunan baru Puskesmas ini dibangun. Kira-kira ada setahun lebih sampah itu selalu dibuang ke TPS,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ciamis dr. Yoyo saat dikonfirmasi Rabu (31/03/2021) di Kantor Dinkes Ciamis mengatakan, bahwa terkait penanganan sampah medis pihaknya selalu mengingatkan para puskesmas agar selalu mengikuti aturan sesuai dengan amanat peraturan pemerintah.

“Amanat undang-undang yang menghasilkan limbah itu sendiri yang harus bertanggung jawab. Terkait anggaran untuk pengelolaan limbah itu pihak PKM harus menganggarkan dari BLUD Puskesmas,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa segala mekanisme dalam hal penanganan sampah medis khususnya dibawah naungan Dinkes sudah ditempuh. Namun diakuinya kalau potensi penyimpangan selalu ada, sehingga masih terdapat Puskesmas yang masih membuang sampah medis sembarangan.

“Ya yang namanya manusia pasti ada kekurangan, dan yang namanya penyimpangan selalu ada saja,” ujarnya.

Terkait hal penanggung jawab dalam hal limbah B3 yang tercampur di TPS domestik dalam hal pencegahan penularan Covid-19 dari limbah yang berpotensi ada penularan ditegaskan ia bahwa hal tersebut buka merupakan tanggung jawab Dinkes.

“Ya kalau untuk pencegahan Covid-19 kan ada pencegahan di tempat kerja, jadi jangan kita yang ngebinannya. Upaya tersebut harus dilaksanakan oleh Dinas terkait yang mengelola TPS atau sampah itu siapa, kalau dibebankan ke Dinkes semua itu berat, kan satgas covid bukan hanya Dinkes,” bebernya.

Lebih lanjut Yoyo megatakan bahwa diakuinya bahwa Puskesmas di Ciamis memang belum memiliki gudang penyimpanan limbah sementara yang sesuai standar, terbukti bahwa di Kantor Dinkes Ciamis pun masih sealakadarnya menggunakan Kalsiboard. Padahal menurut peraturan standarisasi gudang penyimpanan limbah sementara.

Di dalam banyak peraturan dan undang banyak disebutkan bahwa standarisasi dari mulai pengelolaan, izin, dan standarisasi gudang haruslah ditempuh seperti dari bagian luar bangunan diberi papan nama dan diberi simbol limbah B3 sesuai dengan karakteristik limbah B3 yang disimpan, limbah B3 terlindung dari hujan dan sinar matahari, bangunan memiliki sistem ventilasi, sistem penyimpanan menggunakan sistem blok/sel yang dipisahkan masing-masing blok/sel dipisahkan gang/tanggul, lokasi Penyimpanan limbah B3 bebas banjir dan tidak rawan bencana.

Sementara menurut keterangan ia, bahwa kendala di lapangam terkait keterlambatan provider dalam hal pengangkutan limbah B3 adalah karena sedikitnya limbah yang dihasilkan.

“Provider males jika hanya angkut limbah sedikit, sementara gudang penyimpanan limbah B3 di masing-masing puskesmas belum sesuai standar,” akunya.

Jadi harusnya lanjut Yoyo, Puskesmas membuat gudang sementara yang betul-betul layak. Menurutnya mungkin itu yang mengakibatkan ada potensi kerugian keuangannya.

“Tapi jangan digeneralisasi karena sebagian memang pengangkutan oleh pihak ketiga pun ada kegiatannya,” pungkasnya.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait