NUSANTARA

Mengulik Topik ‘Indonesia Tanpa Radikalisme’ ala PKC PMII Sumsel

×

Mengulik Topik ‘Indonesia Tanpa Radikalisme’ ala PKC PMII Sumsel

Sebarkan artikel ini

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]

Reporter : Anang

PALEMBANG, Mattanews.co – Dalam rangka refleksi akhir tahun, Pengurus Koordinator Cabang Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumatera Selatan (Sumsel), menggelar Webinar yang mengangkat judul besar yaitu ‘Indonesia Tanpa Radikalisme’, pada Rabu (23/12/2020) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh anggota PMII dari berbagai daerah, juga kalangan mahasiswa, pemuda dari berbagai instansi dan organisasi se-Indonesia.

Acara tersebut menghadirkan berbagai narasumber dari beberapa bidang. Seperti M. Syueb Sekretaris Tanfidziyah PWNU Sumsel, Adil Wakil Rektor (Warek) I UIN Raden Fatah Palembang dan lainnya.

Husin Rianda, Ketua Umum PKC PMII Sumsel mengatakan, gerakan dan paham radikalisme menjadi salah satu momok yang menakutkan, selain korupsi dan peredaran narkotika di Indonesia.

“Penyebaran paham radikalisme sudah mulai masuk ke seluruh tingkatan jenjang pendidikan, baik dari TK/TPA PAUD bahkan sampai sekolah menengah, melalui pelajaran-pelajaran yang telah di susupi paham-paham radikalis,” ucapnya, saat ditulis Kmis (24/12/2020).

Begitu juga paham radikalis, lanjutnya, yang sudah sampai kepada seluruh lapisan masyarakat. Yang mana, disebarkan melalui majelis-majelis berkedok agamis.

Sebagai Pengurus PKC PMII Sumsel, mereka ingin agar seluruh kalangan masyarakat paham bahayanya gerakan radikalis, yang dapat memecah belah Bangsa.

“Kita selaku pemuda wajib hadir sebagai pemberi solusi dan menciptakan rekomendasi, tentang cara penanganan gerakan radikalisme dan pencegahan paham radikalis yang harus kita lawan secara masif,” ungkapnya.

M. Syueb selaku Sekretaris Tanfidziyah PWNU Sumsel menuturkan, Indonesia terikat dengan NU negara kesatuan berpancaskan pancasila.

Yang mana memiliki nilai nilai yang terkandung dalam agama Islam.

“Di era digital sekarang, menyebabkan provokasi tentang informasi isu agama, sehingga bisa menyebabkan terpecah belah antara satu sama lain,” katanya.

Sementara itu, Warek I UIN RF Palembang M Adil mengungkapkan, setelah aksi tahun 1998, Indonesia diprediksi akan runtuh.

“Namun karena Indonesia memiliki landasan Pancasila dan azas Bhinneka Tunggal Ika, membuat Indonesia tetap bertahan sampai sekarang. Landasan yang tidak dimiliki di negara lain,” katanya.

Editor : Nefri