BERITA TERKINI

Muba Siap Cegah Stunting di Masa Pandemi COVID-19

×

Muba Siap Cegah Stunting di Masa Pandemi COVID-19

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, SEKAYU – Selain menghadapi pandemi COVID-19, Indonesia juga punya masalah yang perlu diatasi yakni gizi buruk. Sebab gizi buruk dinilai mampu memicu kondisi gagal tumbuh masa bayi di bawah umur lima tahun (balita) atau stunting.

Dilansir dari laporan resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sebanyak 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting.

Menurut Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Hj Thia Yufada Dodi Reza, keluarga adalah aspek terpenting menekan angka stunting di masa pandemi COVID-19.

Menurutnya seorang ibu memiliki peran sangat penting bagi anak-anaknya.

“Angka stunting di Kabupaten Muba tahun 2020 menurun, berkat PKK bersama Dinas Kesehatan dan semua stakeholder berkoordinasi dan kerjasama untuk pencegahan stunting,” ujarnya, Selasa (9/3/2021).

Hal tersebut disampaikan saat ia menjadi Keynote Speaker dalam acara Web Seminar (Webinar) yang diselenggarakan oleh Habibie Institute for Publik Policy and Governance (HIPPG) Universitas Indonesia (UI), di Ruang rapat Guest House Griya Bumi Serasan Sekate, Muba.

Duta Cegah Stunting Kabupaten Muba tersebut juga mengatakan, pencegahan stunting telah diupayakan secara aktif oleh posyandu, sosialisasi dan edukasi.

Namun, selama pandemi COVID-19 kegiatan tersebut menjadi terhambat.

Oleh karena itu, Istri Bupati Muba itu mengajak para ibu-ibu berusaha mewujudkan berbagai inovasi agar upaya pencegahan stunting tetap berjalan dengan baik seperti sebelumnya.

Selain keluarga sebagai wadah terpenting, menurut Thia kolaborasi antar pihak seperti sekolah juga penting untuk memberikan edukasi pengawasan di kalangan remaja.

Salah satu upaya yang dilakukannya antara lain, sosialisasi, edukasi dan pengawasan secara online melalui media sosial.

Dia menambahkan, bantuan lain yang diberikan berupa pemberian makanan yang mengandung nutrisi, protein dan gizi yang cukup.

Direktur Eksekutif HIPPG, Dr drg Widya Leksmanawati Habibie Sp Ort MM menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Pemkab Muba menurunkan angka stunting di Kabupaten Muba.

“Luar biasa program-program yang telah dilakukan Pemkab Muba dalam menurunkan angka stunting, terutama peran Ibu Thia Yufada sebagai Duta Cegah Stunting,” ucapnya.

Ia menegaskan, peran ibu-ibu sangat dimanfaatkan. Ia dan pihaknya mengharapkan ibu Thia bisa menjadi narasumber atau motivator untuk cegah stunting secara nasional.

“Kami yakin bisa memotivasi para kader-kader posyandu di Indonesia terkait angka stunting ini,” ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muba, dr Azmi Dariusmansyah MARS mengungkapkan, pihaknya telah melakukan berbagai program dalam penurunan angka stunting tersebut.

Seperti sosialisasi untuk ibu hamil serta pasangannya, dapat memperoleh informasi terkait asupan nutrisi yang baik selama masa kehamilan.

Mulai dari menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat dan yodium. Saran lain berupa himbauan agar ibu hamil dapat menjalankan pemeriksaan rutin ke posyandu.

Dikatakan Azmi, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya.

Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan. Pada masa awal kehidupan setelah lahir dan nampak setelah anak berusia 2 tahun.

“Untuk itu perlu perbaikan pola asuh, pola makan dan perbaikan sanitasi tiga komponen ini perlu penanggulangan dengan cepat,” ucapnya.

Penanggulangan dilakukan dengan mendata ke lapangan juga desa-desa. Terkait hal itu, Pemkab Muba tentunya juga ikut mengambil peranan.

Ia menambahkan, masalah stunting merupakan tata kelola dalam penanganannya sehingga diperlukan kesamaan visi.

Dirinya berharap lewat webinar muncul kesamaan visi dalam menangani stunting hingga nilai angka stunting di tahun 2024 turun.

Upaya itu diyakini bisa mempercepat langkah dan lebih inovatif menyelamatkan rakyat dari era pandemi covid ini.

“Di Muba menghadapi masalah gizi yang berdampak terhadap kulitas Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu masih tinggi prevalensi anak balita pendek (stunting),” ungkapnya.

Lanjut Azmi, stunting tersebut adalah sebuah kondisi berdasarkan pengukuran tinggi badan menurut umur seseorang.

Azmi  juga menyebutkan, faktor langsung mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor konsumsi makanan dan penyakit infeksi.

Kedua itu saling mempengaruhi. Kualitas lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih, sarana sanitasi dan perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air besar di jamban, tidak merokok dan sirkulasi udara dalam rumah.