Pelaku Pembunuhan Petani Cabe Belakang City Mall Tertangkap, Ini Penjelasannya

  • Whatsapp
Rilis ungkap kasus pembunuhan di Prabumulih.
Rilis ungkap kasus pembunuhan di Prabumulih.

MATTANEWS.CO,PRABUMULIH – kasus pembunuhan yang ditenggarai oleh pihak Polres Kota Prabumulih dan Polsek Jajaran,siapa pelaku pembunuhan korban Romadon Jailani (42) petani dilahan kebun sayuran pada akhir Desember 2020 akhirnya terungkap.

Petani cabe yang tinggal dikebun ditemukan tewas dipondoknya yang bealamatkan di Jalan Pelangi Kelurahan Gunung Ibul, Kecamatan Prabumulih Timur belakang City Mall. Melalui olah TKP dan penyelidikan Polisi akhrinya mendapatkan titik terang siapa pelaku atas kejadian ini dan langsung menetapkannya sebagai DPO.

Bacaan Lainnya

Pelakunya adalah Warnel alias Menel (37), merupakan rekan korban tercatat sebagai warga Dusun 08 Lereng Kolot RT 08/RW 08 Kelurahan Sukamarta, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung.

Upaya ungkap kasus yang tiada henti, akhirnya pelaku berhasil ditangkap Tim Nobatz Unit Reskrim Polsek Prabumulih Timur diback up Resmob Polda Banten di Kandang Ayam milik Oman yang berada di Jalan Raya Anyar Desa Kosambi Pondok, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Senin (22/2/2021), sekitar pukul 11.30 WIB.

Kapolres Prabumulih, AKBP Siswandi SH,. SIk,.MH melalui Kapolsek Prabumulih Timur, AKP Herman Rozi SH MH membenarkan.

“Pelaku kita tangkap di Provinsi Banten,dan saat ini kita amankan di Mapolsek,” jelasnya yang didampingi Kanit Reskrim Ipda Haryoni.

Lebih jauh Kapolsek menjelaskan, hasil introgasi terhadap tersangka, motifnya kesal karena korban sering menghubungi istrinya. Karena, cemburu akhirnya pada 28 Desember silam, sekitar pukul 00.30 WIB. Tersangka Menel, mendatangi pondok korban melihat korbannya sedang tidur lalu tersangka memukul korban dengan sebaik kayu hingga kepala korban pecah. Dan, tubuh korban mengalami luka penganiayaan sehingga akhirnya meninggal dunia.

Atas perbuatannya,Tersangka dijerat dengan Pasal 365 KUHP dan atau Pasal 338 KUHP.

“Ancaman penjaranya selama 20 tahun, kasusnya masih akan terus kita kembangkan,” tungkas Akp. Herman Rozi. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait