MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Memasuki usia 80 tahun, bagi Kms. HM Soleh, pemilik hotel Duta dan Grand Duta Palembang adalah tantangan terbesar. Dia harus memutar otak dengan mengencangkan pinggang, mengecilkan untung hingga mengedepankan nurani agar tetap bisa bertahan ditengah pendemi covid 19. Bisnis yang dia bangun hampir 18 tahun tetap harus dipertahankan meski ancaman kebangkrutan dimana-mana. bahkan hotelnya sempat tutup beberapa bulan, lalu buka kembali. Dia pun menggebrak pasar dengan memberikan hadiah besar untuk para tamu. Tujuannya untuk memenangkan kompetisi sekaligus memberikan nilai lebih kepada para tamu.
Sama seperti di Bali saja, beberapa pengelola hotel banyak yang gulung tikar hingga melakukan obral penjualan aset-aset hotel selama pandemi berkepanjangan. Justru cek Mamad, sapaan akrabnya melakukan langkah besar dengan memberikan satu unit mobil kepada tamu.
Tahun lalu bahkan dia mengakui sempat putus asa karena minimnya pendapatan yang masuk dan merugi. Operasional hotel dia tutup dan karyawan di rumahkan. Langkah ini terpaksa dilakukan untuk memperkecil biaya operasional hotel.
“Jika tidak mengedepankan nurani, mungkin nasib perhotelan di Bali akan sama seperti di Palembang. Situasi seperti ini kita benar-benar harus berpikir bijak, hati nurani sangat berperan besar,”katanya saat dibincangi di ruang kerjanya belum lama ini.
Selama membangun bisnis perhotelan, dia mengakui situasi covid adalah yang paling parah dampaknya. Era krisis tahun 1990an tidak terlalu parah dibandingkan saat ini. Anjuran pemerintah yang melarang kunjungan diakuinya memperburuk bisnisnya kala itu. Dia juga tak mampu berbuat banyak karena menyangkut kesehatan. Kebijakan pemerintah pun dinilainya wajar, langkah warning itu dilakukan agar virus covid tidak menyebar kemana-mana. Makanya bisnisnya tak lagi menitikberatkan pada market wisatawan atau keluarga namun lebih dititikberatkan pada kunjungan tamu untuk urusan dinas dan pekerjaan. “Travel warning dari pemerintah tak mungkin berubah, makanya strategi bisnis saya yang harus diubah agar bisnis tetap jalan,”katanya.
Tak kelar dalam hal travel warning dari pemerintah saja, bisnisnya juga harus dihadapkan pada pesaing hotel bintang tiga keatas yang kini lebih banyak bermain di market hotel bintang dua. Bahkan dia mengakui ada hotel bintang empat yang menjual harga kamar sama dengan hotel bintang dua. “Ini jadi makin pelik. Hotel bintang tiga keatas bahkan jor-joran menjual kamar saangat murah. Makanya saya sempat putus asa hingga menutup operasional beberapa bulan, daripada merugi terus,”katanya.
Namun dugaannya salah. Setelah tutup operasional, dia harus tetap mengeluarkan biaya maintence hotel setiap hari, seperti biaya listrik, biaya perawatan dan kebersihkan kamar. Artinya tetap ada biaya yang dikeluarkan meski hotel tutup. Makanya saya putuskan hotel buka kembali,”katanya.
Langkah buka kembali itu membuatbya harus merogoh kocek dari uang pribadinya sendiri karena untuk mengandalkan dari operasional hotel sangat minim kala itu. Cek Mamadvpun kembali memanggil semua pekerja, tanpa merumahkan para pekerja serta membuka kembali operasional hotel. Saat tutup pun, diakuinya banyak tamu yang meminta kembali. “Makanya nurani saya berperan. Saya solat minta petunjuk yang terbaik. Pikiran saya bulat, kalau hotel tutup terus bagaimana karyawan mau memberi makan keluarga mereka. Lalu tamu-tamu loyal saya. Mereka sudah nyaman menginap di hotel,”katanya. Dengan dasar karyawan dan tamu itulah akhirnya cek Mamad kembali membuka hotel dan kini tamu yang menginap pun diakuinya berangsur meningkat. Dia pun turun langsung dengan memilih unit mobil untuk hadiah para tamu. Perlengkapan dan fasilitas hotel bahkan ditingkatkan lebih baik lagi seperti pergantian AC tiap kamar hingga mengubah suasana kamar lebih nyaman lagi.
Saat ini diakuinya dia tidak berharap untung besar. Bisa bertahan serta memberikan fasilitas terbaik untuk tamu dan para karyawannya sudah menjadi kebanggaan tersendiri. “Karyawan saya hampir 200an lebih, belum lagi keluarga mereka yang harus dihidupi,”katanya
Karena cost terbesar untuk operasional hotel itu adalah gaji, biaya perawatan dan kelistrikan . Tiga hal itu yang paling tinggi. Dihotelnya karyawan bekerja tiga shift. Artinya gaji yang dikeluarkan perhari berarti tiga kali lipat belum lagi biaya lainnya. Dia juga tak bisa mengurangi shift bekerja karena menyankut kenyaman tamu hotel langsung. “Misal bagian bersih-bersih lantai yang shift malam saya tiadakan kalau lantai kotor malam-malam siapa yang mau bersihkan. Ini contoh kecilnya saja,”katanya.
Bisnis perhotelan ini dianggapnya beda dengan bisnis retail lainnya. Jika bisnis lainnya bisa mengurangi shift bekerja namun di hotel itu tidak bisa. Makanya dia mencermati banyak hotel-hotel di Bali yang gulung tikar hngga melakukan penjualan dan obral aset jor-joran. Kemungkinan, kata dia, managemen tak mampu menanggung beban biaya operasional seperti listrik dan karyawan yang memang tinggi apalagi gedung yang ditempatinya sewa atau masih ada tanggungan atau pinjaman bank. “Mungkin cost itu yang tidak bisa mereka tekan sehingga tutup hingga jual aset jadi solusi. Gedung kita ini untungnya bukan sewa atau beli mengandalkan pinjaman bank. Kalau seperti itu mungkin sudah bangkrut juga saya,”katanya.
Dimasa pendemi ini, dia juga mengaku mengurangi aktifitas. Cek Mamad lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya dengan membaca buku. Kunjungan ke hotel hanya dilakukan maksimal seminggu sekali. “Sekedar melihat kinerja karyawan saja,”katanya.















