NUSANTARA

Pria Ini Memilih Mengajar di Sekolah Bersejarah Tanpa Dibayar

×

Pria Ini Memilih Mengajar di Sekolah Bersejarah Tanpa Dibayar

Sebarkan artikel ini

Reporter: Mateus Tekege

SD YPPK Pugatadi Pencetak Pejabat Publik Butuh Perhatian Publik

DOGIYAI PAPUA, Mattanews.co — Kurangnya tenaga pendidik di salah satu SD tertua di kabupaten Dogiyai yakni SD YPPK Pugatadi,
Membuat seorang pemuda memutuskan untuk berbakti dan mengajar di sekolah itu.

Menjelang setahun sudah pria yang akrab disapa Jhon E Dumupa itu, menjadi pendidik di SD YPPK Pugatadi, karena panggilan Tuhan kalaupun jurusan saya bukan pendidikan, Rabu (22/07).

“SD YPPK Pugatadi ini butuh perhatian dan pembenahan oleh semua pihak,” ujarnya. Rabu (22/07/2020).

“saya prihatin, bila tak diperhatikan akan ditutup lantaran kurangnya tenaga pengajar,” imbuhnya.

Jhon E. Dumupa mengaku selama setahun itu proses belajar mengajar berjalan efektif di sekolah tertua itu. “Saya mengharumkan nama sekolah dengan keaktifan saya di sekolah itu, jam 07.00 pagi, saya sudah bunyikan lonceng sekolah,” ungkapnya.

Sebenarnya BICHROUD yang dia dapatkan di bangku kuliah bukanlah jurusan pendidikan, tapi kehendak Tuhan lain sehingga beliau bisa mengajar dan mendidik anak-anak selama 1 tahun.

Dikatakan Dumupa, ia memilih mengajar di SD YPPK Pugatadi karena sekolah tersebut salah satu bukti sejarah, dimana sekolah itu berdiri pada tanggal 8 Agustus 1957 bisa dibilang ada di jaman Belanda, tetapi lantas ditutup dikarenakan kurangnya tenaga pengajar sehingga dirinya terpanggil untuk mengajar disana.

Memilih menjadi pendidik itu bukan dorongan dan atau desakan orang lain tetapi murni inisiasi Dumupa sendiri walaupun tanpa Honor tetap akan mengajar atas kepedulian ia terhadap pendidikan di Meeuwodide – Papua.

SD YPPK itu mestinya diperhatikan dan difasilitasikan kekurangan yang ada oleh semuanelemen, guna mempertahankan dan memajukan dengan penuh semangat pengabdian, karena SD YPPK punya bukti bahwa mencetak pejabat publik dimana-mana, itu atas kerja keras dan didikan dari SD YPPK.

“Pada tahun 60-an sampai dengan 2000 itu YPPK terkenal dimana – mana,  terkenal karena disiplin, berdoa dan bekerja semua itu diiringi dengan Proses Belajar mengajar yang tekun,” ungkapnya.

Dumapa berharap untuk dinas Pendidikan secara berkala, sosialisasi informasi terkait pendidikan, mengunjungi dan memonitoring di setiap sekolah untuk memantau langsung kendala atau masalah-masalah yang dialami di tiap sekolah terutama di SD YPPK Pugatadi.

“Mohon kepada pemerintah Kabupaten Dogiyai bahwa perumahan guru harus diupayakan tahun ini dibangun,” ujarnya.

“Disini kami butuh rumah guru yang layak di lingkungan sekolah, agar guru dari luar daerah datang menempatinya. Kami butuh purpustakaan yang layak, kami juga butuh tenaga pengajar yang selesai dari jurusan keguruan,” harapnya.

Editor: Fly