Reporter: Anang
PALEMBANG,Mattanews.co – Political will atau kemauan politik dan persepsi yang sama antara pemangku kebijakan punya peran penting dalam pengembangan Defense Heritage di suatu daerah, terutama di Kota Palembang.
Menurut, Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia (RI), Gerald Theodorus L.Toruan, dalam pengembangan itu, tidak ada ego sektoral masing-masing, tidak boleh ada yang mendahului, prinsip sinergitas itu adalah berjalan bersama-sama sesuai tugas dan pokok pekerjaan masing-masing.
“Jadi tidak saling tumpang tindih,” kata Gerald, disela-sela city tour di Palembang, Minggu (18/10/2020).
Dan kedepannya, lanjut Gerald, diharapkan Defense Heritage di Palembang ini khususnya Benteng Kuto Besak dapat dikembangkan, dan dapat berguna bagi masyarakat Palembang khususnya dan juga untuk rencana pengembangan pariwisata kota Palembang di tahun berikutnya.
“Kodam juga sudah membuka diri terkait Benteng Kuto Besak (BKB),” jelasnya.
Dari hal itu, sambungnya, tinggal kemauan dari pihak provinsi dan kota untuk meneruskan dan mempunyai grand design yang jelas, mau di bawa kemana Benteng Kuto Besak ini.
“Jadi tidak bisa instans seperti yang diharapkan, karena ini butuh proses jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang,” katanya lagi.
Apalagi jika berbicara revitalisasi Benteng Kuto Besak tahap pra, tahap tehnis dan tahap pasca ada masing-masing dinas dan instansi yang terlibat.
Pada saat pra revitalisasi itu bisa melibatkan Dinas Kebudayaan, pada saat proses revitalisasi itu Dinas PU PR dan pasca revitalisasi bangunan itu sudah ada, sudah rapi, itu adalah tanggungjawab dari Dinas Pariwisata baik provinsi ataupun kota.
Apalagi Gerland melihat Defense Heritage Indonesia adalah aset negara, yang perlu dilindungi dari segala ancaman kepunahan.
Defense Heritage Indonesia dapat dioptimalkan penggunaannya, dalam rangka menumbuhkan rasa cinta tanah air masyarakat Indonesia.
Defense Heritage Indonesia yang ada di daerah perlu didukung dengan adanya political will dari para pemangku kebijakan.
“Dan Defense Heritage Indonesia, adalah sebuah simbol perjuangan bangsa Indonesia terhadap penjajah,” tandasnya.
Sementara itu, Mayor Inf Zulfikar dari Bintaldam II Sriwijaya yang merupakan perwakilan undangan Kodam II Sriwijaya memastikan TNI bagaimana perintah pimpinan jika harus pindah maka harus pindah.
“ Satu jam lagi kamu harus meninggalkan Kesdam, siap,” katanya saat bertanya dalam Seminar Nasional dengan Tema Memahami Wisata Sejarah dan Budaya Sebagai Konsep Indonesia Negara Maju 2045, Sabtu (17/10/2020) yang diselenggarakan Universitas Taman Siswa (Unitas) Palembang berkerjasama dengan Kesultanan Palembang Darussalam dan Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa Palembang.
Untuk itu menurutnya, kepada Dinas terkait dia berharap perlu untuk memikirkan kembali bagaimana langkah untuk menancapkan kembali sejarah dan jangan pernah meninggalkan sejarah.
“Tetapi perlu di kaji kembali apa solusinya, bagaimanapun tetap saja memang awalnya Kesultanan, kita tidak akan memungkiri, tapi sejarah juga mencatat sebelum ada rumah sakit (Rs Dr Ak Gani), rumah sakit tentara yang dikejar-kejar pada saat itu,” katanya.
Dia berharap seminar ini tetap di tindaklanjuti dan harus direalisasikan.(ril)
Editor: Fly














