BERITA TERKINIEKONOMI & BISNIS

PTBA Pasang Lima RVM, Ubah Botol Plastik Menjadi Data dan Rupiah

×

PTBA Pasang Lima RVM, Ubah Botol Plastik Menjadi Data dan Rupiah

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, TANJUNG ENIM – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai mengubah cara botol plastik bekas dipandang. Melalui lima unit Reverse Vending Machine (RVM) yang ditempatkan di sejumlah area operasional, permukiman, dan fasilitas umum, botol yang sebelumnya berpotensi berakhir sebagai sampah kini dipindai secara digital, dicatat dalam sistem, lalu dikonversi menjadi poin bagi penggunanya.

Langkah bertajuk “Sampah Jadi Berkah, Botol Jadi Rupiah” itu menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular berbasis teknologi di lingkungan PTBA. Sistem tersebut tidak hanya mengumpulkan botol plastik, tetapi mendorong pemilahan sejak dari tangan pengguna sebelum material masuk ke rantai pengumpulan dan daur ulang.

Inovasi itu hadir di tengah persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan besar di Indonesia. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025 mencatat, dari 278 kabupaten dan kota yang melakukan penginputan data, timbulan sampah mencapai 29,19 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 19,59 juta ton atau 67,1 persen masih belum terkelola.

Persoalan itu juga terlihat di tingkat lokal. Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muara Enim mencatat rata-rata timbulan sampah sepanjang 2025 mencapai 83,88 ton per hari dengan total sekitar 30.556,86 ton dalam setahun. Angka tersebut memperlihatkan besarnya tantangan pengelolaan sampah di daerah yang menjadi salah satu pusat aktivitas PTBA.

Tantangan menjadi semakin kompleks ketika berbicara tentang plastik. Penanganan sampah plastik masih membutuhkan penguatan dari hulu hingga hilir, termasuk pemilahan material sejak dari sumbernya agar plastik memiliki peluang lebih besar untuk kembali masuk ke dalam rantai daur ulang.

Di tengah persoalan tersebut, PTBA memilih memulai dari titik paling awal dalam rantai pengelolaan sampah: tangan pengguna.

General Services Dept. Head PTBA Renny Tri Miranti mengatakan, Reverse Vending Machine tidak sekadar menjadi fasilitas untuk mengumpulkan botol plastik. Program tersebut dirancang sebagai bagian dari upaya menghadirkan inovasi pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan pegawai dan masyarakat.

“Program RVM bukan sekadar fasilitas pengumpulan sampah, melainkan wujud nyata komitmen PTBA dalam mendukung penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan atau PROPER serta pelaporan keberlanjutan perusahaan,” ujar Renny.

Sebanyak lima unit RVM ditempatkan di area perkantoran tambang dan non-tambang PTBA, kawasan Perumahan Tanah Putih, serta sejumlah fasilitas umum lainnya. Kehadiran mesin tersebut memungkinkan pegawai dan masyarakat menyetorkan botol plastik langsung ke dalam sistem pengumpulan berbasis digital.

Pengguna cukup memastikan botol dalam keadaan kosong dan tidak berisi cairan. Label botol juga perlu tetap menempel agar sistem dapat melakukan identifikasi secara optimal.

Setelah menekan tombol mulai, botol dimasukkan satu per satu ke dalam lubang penerimaan. Mesin kemudian melakukan pemindaian dan identifikasi secara otomatis. Lampu indikator berwarna hijau menandakan botol diterima sistem.

Setiap botol yang berhasil masuk tidak berhenti sebagai tumpukan sampah. Sistem mencatatnya secara digital dan mengonversinya menjadi poin yang dapat diakses pengguna melalui aplikasi dengan memindai QR Code pada layar mesin.

Model RVM berbasis insentif digital tersebut telah menunjukkan bagaimana teknologi dapat mendorong perubahan perilaku pengguna. Seorang pengguna aktif RVM di Jakarta, Rian (28), mengaku kebiasaan sederhana mengumpulkan botol plastik mulai berubah setelah ia merasakan manfaat langsung dari sistem penukaran tersebut.

“Dulu kalau habis minum air kemasan pas olahraga pagi, botolnya sering main lempar begitu saja ke tempat sampah umum. Tapi sejak ada RVM ini, malah ketagihan ngumpulin botol bekas. Lumayan banget, sekali setor beberapa botol, poinnya langsung masuk ke dompet digital buat beli kopi atau potong biaya ongkir ojol. Berasa ada gunanya jaga lingkungan!” kata Rian.

Pengalaman tersebut memperlihatkan satu persoalan penting dalam pengelolaan sampah: teknologi saja tidak cukup. Sistem perlu menghadirkan alasan bagi masyarakat untuk mengubah kebiasaan.

Ketika botol plastik memiliki nilai, perilaku membuang mulai bergeser menjadi perilaku mengumpulkan. Ketika setiap setoran tercatat secara digital, aktivitas sederhana tersebut juga berubah menjadi data yang dapat digunakan untuk mengukur partisipasi dan dampak lingkungan.

Data operasional sistem Reverse Vending Machine menunjukkan potensi pendekatan tersebut. Hingga periode pencatatan data yang tersedia, sistem RVM telah mengumpulkan 90.521 botol plastik kemasan.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1.577 kilogram atau 1,57 ton limbah plastik PET berkualitas tinggi yang dapat diarahkan kembali ke dalam rantai pemanfaatan dan daur ulang.

Sistem tersebut juga telah digunakan oleh lebih dari 14.300 pengguna aktif melalui aplikasi. Angka itu menunjukkan bahwa teknologi pengumpulan sampah berbasis insentif memiliki peluang untuk membangun partisipasi publik dalam skala yang lebih luas.

Dari sisi lingkungan, pengumpulan botol melalui sistem RVM tersebut disebut berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon hingga 6,24 juta gram CO2 equivalent. Selain mengurangi emisi, mekanisme tersebut juga mencegah puluhan ribu botol plastik berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai potensi teknologi yang kini mulai diterapkan PTBA melalui lima unit RVM. Mesin tersebut tidak sekadar menjadi tempat baru untuk membuang botol, tetapi dapat membangun sebuah rantai pengelolaan yang dimulai sejak material berada di tangan pengguna.

Botol dipilah sejak dari sumbernya, diidentifikasi oleh mesin, dicatat dalam sistem, dikonversi menjadi poin, kemudian dikumpulkan untuk diteruskan ke proses pemanfaatan kembali.

PTBA menyatakan plastik yang terkumpul melalui RVM akan diproses secara bertahap melalui sistem daur ulang. Material tersebut selanjutnya dapat diolah kembali menjadi bahan baku berbagai produk bernilai guna.

Dengan pendekatan tersebut, sebuah botol plastik tidak lagi dipandang sebagai akhir dari siklus konsumsi. Setelah digunakan, material masih memiliki peluang untuk masuk kembali ke dalam rantai pemanfaatan.

Bagi industri yang aktivitasnya berhubungan langsung dengan pemanfaatan sumber daya alam, pendekatan tersebut memiliki arti lebih luas. Persoalan keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai bagaimana perusahaan mengelola kegiatan utama, tetapi juga bagaimana pola konsumsi dan limbah di sekitar aktivitas perusahaan dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab.

Di lingkungan Grup MIND ID, keberlanjutan ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya mineral dan penciptaan nilai jangka panjang. Dalam konteks tersebut, penerapan RVM di PTBA menjadi contoh bagaimana agenda keberlanjutan diterjemahkan ke dalam tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Teknologi tidak hanya bekerja jauh di balik proses industri. Melalui RVM, teknologi ditempatkan di ruang yang dapat diakses langsung oleh pegawai dan masyarakat, lalu menghubungkan satu tindakan sederhana dengan sistem digital, insentif ekonomi, data, dan rantai ekonomi sirkular.

Renny mengatakan, perubahan perilaku menjadi salah satu bagian penting dari program tersebut. PTBA ingin mendorong lebih banyak pihak untuk terlibat dalam pengelolaan sampah yang lebih bersih, tertib, dan berkelanjutan.

“PTBA mengajak seluruh pegawai dan masyarakat untuk menjadi bagian dari pionir teknologi masa depan dalam pengelolaan sampah yang lebih bersih, tertib, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Bagi pengguna, prosesnya mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Sebuah botol dimasukkan ke dalam mesin, dipindai, diterima sistem, lalu berubah menjadi poin digital.

Namun, di balik proses sederhana itu terdapat rantai perubahan yang lebih panjang. Sampah dipilah dari sumbernya, material dicatat sebagai data, partisipasi diberi nilai, lalu plastik dikembalikan ke dalam proses pemanfaatan.

Di tengah Muara Enim yang mencatat rata-rata 83,88 ton sampah per hari sepanjang 2025 dan persoalan sampah nasional yang masih membutuhkan penanganan serius, lima mesin RVM PTBA memang belum akan menyelesaikan seluruh persoalan sampah.

Namun, langkah tersebut menawarkan sebuah perubahan cara pandang.

Pengelolaan sampah tidak harus dimulai ketika botol sudah menumpuk di tempat pembuangan.

Ia bisa dimulai lebih awal.

Dari tangan pengguna.

Sebuah botol yang sebelumnya selesai setelah diminum, kini masuk ke mesin, menjadi data, menghasilkan nilai ekonomi, dan kembali memiliki peluang untuk dimanfaatkan.

Di situlah ekonomi sirkular mulai bekerja.

 

Penulis: Indra Hadi
Editor: Redaksi