Rahasia Sukses Nawrah Ecoprint Tulungagung Menembus Pandemi

  • Whatsapp
Pemilik Nawrah Ecoprint, Binti Mudawamah digalerinya, Minggu (6/6) Foto: Ferry Kaligis/mattanews.co

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Hobi menyukai sesuatu hal berbau etnik ini, akhirnya membawa Nawrah Ecoprint sukses mengembangkan teknik membuat warna dan motif pada kain dan kulit dengan menempel daun dan bunga.

Dia tertarik mengembangkan Ecoprint dinilai ramah lingkungan disamping harganya yang tinggi. Menurutnya, trend busana Ecoprint saat ini kian menanjak, seiring kampanye begitu masif terkait pemanasan global dan ramah lingkungan.

Bacaan Lainnya

Demikian, disampaikan oleh Binti Mudawamah saat berbincang santai kepada mattanews.co di galeri Nawrah Ecoprint beralamat jalan Pesantren Sentono kalong, Desa Bendiljati Wetan Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (6/6/2021) Siang.

“Awalnya bukan iseng tapi suka dengan berbau hal etnik, ketika pertama melihat Ecoprint ingin belajar akhirnya mendatangi beberapa workshop hingga akhirnya memproduksi kain Ecoprint sendiri,” cerita Dia.

“Mulai tertarik akhir 2019, dan mulai menggeluti Ecoprint untuk memasarkan awal 2020, sebelum Pandemi melanda,” imbuhnya.

Kata Dia, awal menggeluti Ecoprint optimis, buktinya hasil karya ecoprintnya meraup omset lumayan bagus sebelum adanya Pandemi Maret 2020.

“Adanya pandemi, mengaku sempat terpukul hingga beberapa bulan, namun akhirnya bangkit. Saya berpikir menekuni Ecoprint harus membuat sesuatu unik, tidak hanya memproduksi kain, karena kita tahu media Ecoprint itu juga kulit maka akhirnya memproduksi tas dan sepatu,” Binti menambahkan.

“Ecoprint sendiri merupakan sebuah teknik membuat warna dan motif pada kain dengan menempel daun dan bunga pada kain atau kulit,” sambung Wanita yang juga Wakil Ketua DPC IWAPI Kabupaten Tulungagung sembari tersenyum.

Seiring bergulirnya waktu, tutur Dia menjelaskan semakin kompetitif ecoprint dipasaran, kemudian mulai berfikir untuk mengembangkan brand (merek red.) sendiri dan memberi nama Nawrah.

“Jadi begini, waktu itu ada pelatihan dari Dinas terkait salah satunya untuk mematenkan suatu produk, maka Nawrah Ecoprint saya daftarkan,” terangnya.

“Awal produksi ecoprint, hasil karyanya sering ikut pameran baik di Tulungagung maupun diluar kota diantaranya Surabaya,” imbuh Ketua Ecoprint dan ikat Celup Sahabat UMKM Kabupaten Tulungagung dengan mimik bangga.

Galeri Nawrah Ecoprint milik Binti Mudawamah alamat di Desa Bendiljati Wetan Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung, Minggu (6/6) Foto: Ferry Kaligis/mattanews.co

Hasil karya ecoprintnya, lebih dalam papar Dia mematok harga bervariasi tergantung dari bahan pembuatannya.

“Harga tas terbuat dari kain kanvas dipatok kisaran Rp.150.000- Rp.500.000 rupiah, sedangkan bahan kulit produk dompet dan tas kisaran Rp.150.000 hingga Rp.1.500.000 rupiah,” Binti memaparkan.

“Kain ecoprint dipatok Rp.250.000 hingga Rp.1.000.000 rupiah tergantung dari bahan pembuatannya,” imbuhnya.

Baca juga: AMPP Tulungagung Galang Donasi Kemanusiaan Palestina

Menurut Dia, semenjak menggeluti ecoprint ini mengaku belum ada binaan dari instansi atau lembaga, namun meski begitu ia sudah sering mengikuti pelatihan dari Dinas Industri dan Perdagangan dan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kabupaten Tulungagung.

“Begini ya, memang belum ada terikat dibina oleh sebuah instansi atau lembaga. Namun, saya mengucapkan terimakasih dapat bantuan dari Dinas Indag Kabupaten Tulungagung berupa mesin untuk menipiskan kulit yang tebal sebagai bahan baku tas dan sepatu,” ucapnya.

“Alhamdulilah, kerjasama dengan Ely Virgowati seorang perancang busana Nasional memakai kain Nawrah Ecoprint untuk fashion show di Surabaya bahkan berkiprah level Nasional,” sambungnya.

Selain itu, Dia menambahkan selama ini tergabung dalam wadah Ecoprint Indonesia, buktinya karya Nawrah tampil di buku 102 karya ecoprinter Indonesia.

Dia berharap, Ecoprint menjadi karya booming (terkenal.red) diseluruh Indonesia, karena itu setiap perajin harus memiliki ciri, karakter khas atau produk unik yang dimiliki pengrajin Ecoprint.

“Artinya perajin tersebut tidak menjiplak karya maupun meniru orang lain, namun demikian dengan menekuni ecoprint akan menghasilkan karya berbeda dengan yang lain,” tukas Wanita kelahiran Tulungagung, 23 Mei 1966.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait