Volume Sungai Berubah
MATTANEWS.CO, MUARA ENIM – Aktivitas pertambangan batu bara di wilayah Desa Gunung Megang Dalam, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, dikeluhkan warga karena diduga berdampak terhadap produktivitas kebun karet dan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Pemilik kebun mengaku sudah lebih dari satu tahun tidak dapat memanen getah karet seperti biasanya. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan debu dari aktivitas pertambangan serta perubahan aliran sungai yang disebut berdampak pada kebun milik warga.
Berdasarkan pantauan di lapangan, lokasi kebun warga berada tidak jauh dari area pertambangan yang dikelola PT RMK. Debu yang terbawa angin tampak menutupi area kebun hingga bangunan warung milik warga yang berada di sekitar lokasi.
Tebalnya debu membuat warga harus menggunakan masker ketika hendak menuju kebun. Kondisi tersebut juga membuat aktivitas penyadapan karet terganggu. Bahkan, pondok yang biasa digunakan warga untuk berjualan terpaksa ditinggalkan karena debu terus menempel di bangunan.
Salah seorang pemilik kebun, Mukti, mengaku mengalami kerugian akibat kondisi yang terjadi. Ia mengatakan, sebelumnya kebun karet miliknya mampu menghasilkan sekitar satu kuintal getah per hektare dalam satu minggu.
Namun, saat ini ia mengaku tidak lagi dapat memanen getah seperti sebelumnya. Padahal, luas kebun yang terdampak mencapai kurang lebih empat hektare dan berbatasan dengan kebun milik warga lainnya.
Mukti berharap perusahaan memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut dan segera menyelesaikan persoalan yang dihadapi warga, termasuk tuntutan ganti rugi atas kerugian yang mereka alami.
“Kebun karet merupakan salah satu sumber penghidupan kami. Ketika aktivitas penyadapan terganggu dan kebun tergenang air, kami kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan dari hasil perkebunan,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).
Kepala Desa Gunung Megang Dalam, Priadi, mengatakan bahwa keluhan warga mengenai dampak aktivitas pertambangan batu bara tersebut telah disampaikan kepada pemerintah desa.
Pihak desa, lanjutnya, telah meneruskan keluhan tersebut kepada perusahaan. Namun, hingga saat ini, menurut Priadi, belum ada tanggapan yang memberikan penyelesaian terhadap persoalan yang dikeluhkan masyarakat.
Priadi juga menyoroti kondisi Sungai Hande yang berada tidak jauh dari lokasi perusahaan. Ia mengkhawatirkan adanya penyempitan aliran sungai maupun perubahan kondisi sungai yang dapat berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
“Sungai Hande memiliki peran penting bagi warga setempat. Selain dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan oleh masyarakat yang beraktivitas sebagai nelayan, sungai tersebut juga menjadi salah satu sumber air bagi warga,” ujarnya.
Karena itu, lanjutnya pihak desa berharap perusahaan memberikan perhatian serius terhadap kondisi sungai dan dugaan dampak aktivitas pertambangan di sekitarnya.
Pemerintah desa juga mengharapkan adanya penyelesaian melalui koordinasi antara perusahaan dan masyarakat agar persoalan yang dikeluhkan warga tidak terus berlarut-larut.
Sementara itu, Humas Eksternal PT RMK, Muhammad Faisal, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan warga terkait ganti rugi lahan yang terdampak operasional perusahaan.
Menurut Faisal, persoalan tersebut saat ini masih diproses dengan melakukan koordinasi bersama bagian terkait di internal perusahaan.
“Terkait dugaan perubahan bentuk dan volume aliran Sungai Hande, saya belum mengetahui secara pasti kondisi tersebut karena saya baru bergabung di akhir tahun kemarin, jadi belum lama bergabung dengan perusahaan,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari klarifikasi perusahaan atas keluhan yang disampaikan masyarakat. Sementara itu, dugaan keterkaitan antara aktivitas pertambangan, penumpukan debu, perubahan aliran sungai, dan kerugian kebun warga masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab serta dampaknya.
Keluhan warga Gunung Megang Dalam memperlihatkan pentingnya pengawasan terhadap dampak aktivitas pertambangan batu bara, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan lahan perkebunan dan permukiman masyarakat.
Debu yang menyebar ke area sekitar, terganggunya aktivitas ekonomi warga, serta kekhawatiran terhadap kondisi aliran sungai merupakan persoalan yang perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lapangan dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Di satu sisi, pertambangan memiliki nilai ekonomi dan berperan dalam kegiatan usaha. Namun, di sisi lain, perlindungan lingkungan dan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat sekitar juga harus menjadi perhatian.
Warga berharap keluhan mereka tidak berhenti pada tahap koordinasi, tetapi ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Pemeriksaan kondisi kebun, evaluasi aliran Sungai Hande, pengendalian debu, serta penyelesaian persoalan ganti rugi menjadi sejumlah hal yang diharapkan dapat segera mendapat kejelasan.
Bagi warga yang menggantungkan hidup dari kebun karet dan sumber daya sungai, persoalan ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan juga menyangkut keberlangsungan penghidupan mereka.














