BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARAPEMERINTAHANPOLITIK

Upaya Pencegahan dan Penurunan Angka Stunting, Ketua TP PKK Tulungagung Sebut 1.000 HPK

×

Upaya Pencegahan dan Penurunan Angka Stunting, Ketua TP PKK Tulungagung Sebut 1.000 HPK

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG- Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur, Dra Endang Dwi Retnowati menyebut 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan hal penting dalam rangka upaya pencegahan dan penurunan stunting.

Menurut Wanita berhijab merupakan Istri Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo bahwasanya upaya pencegahan dan penurunan stunting secara holistik integratif dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi dari peran seluruh pihak.

Hal itu dikatakan Endang dalam sambutannya dalam rangka menghadiri kegiatan pelaksanaan fasilitasi pembimbingan pengembangan dan penguatan penyiapan pengasuhan 1000 HPK dalam pencegahan stunting dan pemberian bantuan sepesimis kepada ibu hamil berisiko stunting di lantai dua Ruang Praja Mukti Kantor Bupati Tulungagung, Senin (28/4/2025).

“Kami berharap kepada semua pihak untuk bersinergi, terutama bagi mitra kerja serta pemangku kepentingan di daerah, untuk lebih menyeluruh melakukan kegiatan advokasi dan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) tentang advokasi, promosi dan pengasuhan 1.000 HPK secara rutin kepada keluarga yang berada di desa maupun kota,” ucap Endang.

“Karena melalui advokasi dan KIE itu, kami optimis dapat meminimalisir serta melakukan percepatan penurunan stunting di Kabupaten Tulungagung ini. Oleh karena itu, percepatan penurunan stunting telah dan akan tetap menjadi fokus perhatian dan prioritas Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang tertuang dalam misi pembangunan yakni pembangunan Sumber Daya,” imbuhnya.

Masih dalam sambutannya, Endang menambahkan bahwa dalam mendukung implementasi misi Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam pemberantasan kemiskinan dan penguatan kualitas SDM yang unggul untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 diperlukan penyiapan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.

Perlunya pemahaman bersama, sambung Endang, bahwasanya stunting tidak semata-mata disebabkan oleh masalah gizi khususnya terhadap ibu hamil dan anak Balita saja, akan tetapi disebabkan oleh multi faktor.

“Seperti praktik pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan serta setelah melahirkan,” tambahnya.

“Oleh karenanya, selain benar upaya intervensi yang terus kita lakukan dalam penurunan stunting seperti pemberian makanan bergizi bagi Balita meningkatkan kualitas akses dan mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya. Intervensi yang paling menentukan saat ini yang harus kita lakum secara berkelanjutan, agar kita dapat mengurangi prevalensi stunting adalah dengan mengadvokasi dan membangun komunikasi informasi serta memberikan edukasi kepada keluarga, masyarakat secara terpadu, terarah, dan tepat,” sambungnya.

“Agar upaya asupan gizi serta pola pengasuhan 1.000 HPK atau dari anak umur 0-2 tahun dapat dilaksanakan secara baik dengan standar kesehatan,” katanya menambahkan.

Sebelum mengakhiri sambutannya, lebih lanjut Endang menjelaskan secara prevalensi berdasarkan bulan timbang Februari 2025 angka stunting Tulungagung sebesar 5,14 persen. Akan tetapi berdasarkan hasil survei kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting mengalami peningkatan diantaranya disebabkan oleh kurang optimalnya kunjungan ke Balita ke Posyandu untuk dilakukan pengukuran dan penimbangan.

“Untuk itu dalam kesempatan ini, ia mengimbau kepada seluruh pihak terkait, termasuk TP PKK untuk melaksanakan aksi secara cepat dan tepat sasaran, serta mengedepankan peran lokal dan menggerakkan masyarakat ke Posyandu,” terangnya.

Menurut Endang, arah pembangunan kesehatan di titik beratkan pada upaya promotive, preventive, karena dapat memberikan dampak yang lebih luas dan lebih efisien dari sisi ekonomi.

“Perbaikan gizi masyarakat yang difokuskan pada 1.000 HPK menjadi komponen utama pembangunan kesehatan yang berkelanjutan sebagai investasi dalam Pembangunan SDM Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 bebas Stunting,” pungkasnya.