MATTANEWS.CO, PRABUMULIH – Bak pepatah ‘Lain Ladang Lain Belalang Lain Lubuk Lain Pula Ikan’ di Nusantara ini terdapat banyak adat istiadat dan seni yang beragam. Setiap daerah atau suku memiliki adat istiadat yang berbeda, satu aturan disuatu daerah bisa berbeda dengan aturan didaerah atau suku lainnya.
Namun atas perbedaan tersebut makin terang berkilau kayanya ibu pertiwi yang justru bisa saling melengkapi satu sama lain dengan tetap satu tujuan yakni melestarikan kearifan lokal dari berbagai suku dijagad raya.
Ditengah era moderenisasi yang tanpa bisa ditolak, buaian kolaborasi pengaruh pesatnya kemajuan jaman terasa mulai menina bobo kan keaslian adat seni dan budaya yang dikhawatirkan akan mulai terkikis perlahan.
Beranjak dari tempat duduknya usai menikmati secangkir kopi, Media Online Mattanews.co menuju suatu Desa yang merupakan batas wilayah pada sebuah kota dengan peduduk aslinya suku Belida.
Berpacu dengan waktu, Minggu diufuk senja. Deru sepeda motor sang jurnalis menghantarkannya ke suatu tempat yang berada di Desa Pangkul Kecamatan Cambai Kota Prabumulih Provinsi Sumatera Selatan, (9/10/2022).
Melangkah dengan sebuah HP dalam genggam dan langsung disapa ramah sang Kepala Dusun, Kadus Sartiman sedari tadi bersama beberapa warganya tengah berkunjung ke makam Leluhur (Puyang) mereka yang merupakan sosok tertua atau pemimpin di Desa Pangkul waktu itu.

Berkunjung dalam artian berziarah, dimana dalam adat mereka mendoakan mendiang sang puyang serta sebuah bentuk penghormatan juga meminta restu atas akan dilaksanakannya sebuah acara yang dimana pada upacara adat malam nanti Tari Ngigal kembali diperagakan.
“Usai dari berziarah ini nanti malam kita akan melangsungkan upacara adat dengan menampilkan Tari Ngigal di Balai Desa,” ucap Sartiman
Mengorek keterangan dari beberapa tetua masyarakat Pangkul, terbalut waktu Tari Ngigal hampir 30 tahun telah lama tidak ditampilkan. Dijelaskannya para penari bergerak dengan memegang tombak yang pada jaman dahulu simbol semangat masyarakat dalam keseharian dan juga tarian itu sebagai salam pembuka untuk menyambut para pemimpin serta tamu kehormatan yang datang di desa mereka.
Bertolak pada malam hari, sakral dan penuh makna dengan diiringi tetabuhan khasnya, Tari Ngigal yang telah lama tidak tampil diperagakan oleh penari dari para tetua dan pemuda yang tentu disaksikan oleh Pemerintah Desa serta para warga.
“Sekarang hingga telah sekian lama dan dikhawatirkan hampir punah, masyarakat Desa Pangkul kembali membangkitkan peninggalan adat istiadat yaitu tari ngigal dari Puyang atau pemimpin kami jaman dahulu,” ucap Kades Pangkul Jakaria SH saat dibincangi media ini.
Lebih dalam Kades Jack sapaannya, biar tidak terkikis Tari Ngigal akan ditampilkan secara rutin.
“Kita akan terus melestarikan adat dan budaya di desa kami. Seperti tari ngigal ini yang hampir punah, pada setiap perayaan ulang tahun desa pangkul tari ngigal akan kita tampilkan,” tungkasnya.
Kota Prabumulih terdapat suku asli pribumi yaitu suku Rambang dan Belida, namun Persatuan Indonesia dengan falsafah Pancasila yang tertuang dalam semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika” bermakna bahwa Indonesia memiliki keberagaman agama, suku, bahasa serta budaya, termasuk tari-tarian dan kesenian lainnya yang masing-masing memiliki misi dan tujuannya sendiri tetapi tetap satu yakni semangat Indonesia Raya.














