Waduh! Limbah Covid-19 di Puskesmas Purwakarta Disimpan Hingga Empat Bulan

  • Whatsapp
Limbah Penanganan Covid-19
Limbah Penanganan Covid-19

MATTANEWS.CO, PURWAKARTA – Seperti diketahui, selama pandemi Covid-19, terjadi peningkatan jumlah sampah medis yang tergolong limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di tiap fasilitas kesehatan. Jika dibuang sembarangan, tentunya sangat berbahaya dan bisa jadi memicu penularan.

Seperti halnya di Kabupaten Purwakarta, jumlah limbah medis juga mengalami peningkatan di sejumlah Puskesmas. Penanganan limbah medis di Puskesmas di wilayah Purwakarta diserahkan kepihak ketiga. Pengambilan limbah medis Covid-19 tidak rutin dilakukan setiap hari, melainkan disimpah terlebih dahulu hingga 4-5 bulan, berdasarkan jumlah tumpukan limbah.

Bacaan Lainnya

“Biasanya limbah medis di sini simpan dulu 4 hingga 5 bulan sebelum diambil pihak ketiga dengan berat 45 kg, dan itu sesuai dengan MoU. Tiap satu minggu kita lakukan penyemprotan,” kata Yanto.

Yanto menjelaskan, sebelum diambil pihak ketiga, limbah di puskesmas disatukan dalam satu ruangan yaitu di tempat penampungan sementara (TPS), akan tetapi dalam pengemasannya terpisah, sesuai dengan SOP yang telah di tetapkan.

Yanto mengatakan, untuk TPS yang ada di Puskesmas Munjul sudah ada sejak 3 tahun yang lalu. Namun memang izin TPS tersebut masih dalam proses pengajuan kepihak terkait.

Kendati demikian, Yanto memastikan penangan limbah medis di Puskesmas Munjul sesuai aturan yang ada dan tidak membahayakan masyarakat sekitar.

“Untuk anggaran penanganan limbah medis di Puskesmas Munjul sebesar Rp20 juta per tahunnya,” ujar Yanto.

Sementara itu, Ketua Ormas Laskar Merah Putih Jakaria, menyoroti penanganan limbah Covid-19 di sejumlah puskesmas yang ada di Purwakarta.

Pasalnya, dalam penanganan limbah infeksius yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan perlu dikelola sesuai ketentuan, diantaranya disimpan sementara maksimum 2×24 jam setelah didisinfektan. Kemudian diangkut dan atau dimusnahkan pada pengelolaan limbah B3 serta langkah selanjutnya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dikeluarkan pemerintah.

Hal tersebut berdasarkan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/20 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19).

“Kok ini malah disimpan lama, 4 hingga 5 bulan, apakah itu tidak berbahaya bagi masyarakat dan pegawai di puskesmas itu sendiri?,” kata Jakaria.

Selain itu, Jakaria juga menyayangkan TPS di seluruh puskesmas yang ada di Purwakarta belum memiliki izin. Harusnya pemerintah memberikan contoh yang baik ke masyarakat.

“TPS limbah medis udah ada, tapi izin belum ada. Dan parahnya lagi semua TPS Puskesmas di Purwakarta belum ada izin,” ucapnya Jakaria.

Sebagai penutup, Jakaria berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta bisa lebih memberikan perhatian khusus terkait penanganan limbah medis di puskesmas. Jangan sampai adanya penumpukan limbah medis di puskesmas dan belum berizinnya TPS berakibat fatal bagi masyarakat sekitar.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait