BERITA TERKINIHEADLINESeni dan Budaya

Setengah Abad Mutiara yang Hilang, Tari Ngigal Desa Pangkul Kembali Ditampilkan

×

Setengah Abad Mutiara yang Hilang, Tari Ngigal Desa Pangkul Kembali Ditampilkan

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PRABUMULIH – Bak pepatah ‘Lain Ladang Lain Belalang Lain Lubuk Lain Pula Ikan’ di Nusantara ini terdapat banyak adat istiadat dan seni yang beragam. Setiap daerah atau suku memiliki adat istiadat yang berbeda, satu aturan disuatu daerah bisa berbeda dengan aturan didaerah atau suku lainnya.

Namun atas perbedaan tersebut makin terang berkilau kayanya ibu pertiwi yang justru bisa saling melengkapi satu sama lain dengan tetap satu tujuan yakni melestarikan kearifan lokal dari berbagai suku dijagad raya.

Ditengah era moderenisasi yang tanpa bisa ditolak, buaian kolaborasi pengaruh pesatnya kemajuan jaman terasa mulai menina bobo kan keaslian adat seni dan budaya yang dikhawatirkan akan mulai terkikis perlahan.

Dalam hal ini, Kota Prabumulih terdapat suku asli pribumi yaitu suku Rambang dan Belida, namun Persatuan Indonesia dengan falsafah Pancasila yang tertuang dalam semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika” bermakna bahwa Indonesia memiliki keberagaman agama, suku, bahasa serta budaya, termasuk tari-tarian dan kesenian lainnya yang masing-masing memiliki misi dan tujuannya sendiri tetapi tetap satu yakni semangat Indonesia Raya.

Salah satunya yaitu Desa Pangkul Kecamatan Cambai Kota Prabumulih memiliki adat istiadat tersendiri, sebagai budaya kearipan lokal didesa mereka sebuah seni mutiara yang hilang dengan dinamai Tari Ngigal yang diiringin alat tabuh khas gamelan mereka.

Mengorek keterangan dari beberapa tetua masyarakat Pangkul, terbalut waktu Tari Ngigal hampir setengah abad telah lama tidak ditampilkan. Dijelaskannya para penari bergerak dengan memegang tombak yang pada jaman dahulu simbol semangat masyarakat dalam keseharian dan juga tarian itu sebagai salam pembuka untuk menyambut para pemimpin serta tamu kehormatan yang datang di desa mereka.

Ngigal yang telah lama tidak tampil diperagakan oleh penari dari para tetua dan pemuda yang tentu disaksikan oleh Pemerintah Desa serta para warga.

“Sekarang hingga telah sekian lama hampir 50 tahun dan dikhawatirkan punah, masyarakat Desa Pangkul kembali membangkitkan peninggalan adat istiadat yaitu Tari Ngigal dari Puyang atau pemimpin kami jaman dahulu,” ucap Kades Pangkul Jakaria SH saat dibincangi media ini, Senin (22/7/2024) tadi malam.

Lebih dalam Kades Jack sapaannya, biar tidak terkikis Tari Ngigal akan ditampilkan secara rutin.

“Kita akan terus melestarikan adat dan budaya di desa kami. Seperti tari ngigal ini yang hampir punah, pada setiap perayaan ulang tahun desa pangkul tari ngigal akan kita tampilkan,” tungkasnya.