MATTANEWS.CO,LAHAT – Kabut tipis menggantung di atas kebun karet pagi itu. Dari celah pepohonan, sinar matahari menembus samar, memantul di butiran embun yang menempel di daun. Udara lembap membawa aroma getah dan tanah basah aroma khas Lahat, Sumatera Selatan, di kaki Bukit Serelo yang gagah menjulang di kejauhan.
Di tengah suasana itu, suara deru mesin penggiling gula aren terdengar nyaring dari sebuah bangunan semi permanen di tepi jalan desa. Bangunan itu sederhana: dinding papan, atap seng, dan papan nama bertuliskan “Rumah Produksi Gula Semut Asli Sumsel”. Di dalamnya, beberapa perempuan sibuk menuang cairan gula ke loyang, menunggu hingga mengering dan menjadi kristal cokelat beraroma karamel.
Mereka bekerja di bawah arahan Mila Rahmi, 29 tahun seorang perempuan muda yang percaya bahwa perubahan bisa tumbuh dari sudut desa.
“Dulu kami jual gula aren batangan, seadanya. Sekarang, lihat,” katanya sambil menepuk kemasan produk yang kini tampil rapi, lengkap dengan label, kode produksi, dan logo halal. “Orang-orang kota beli bukan hanya karena manisnya, tapi karena kisahnya,” saat dibincangi Senin (27/10/2025).
Dari Dapur ke Pasar
Lima tahun lalu, Mila tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi penggerak ekonomi di desanya. Ia hanyalah anak petani yang terbiasa membantu orangtuanya menoreh karet di pagi buta. Setelah lulus SMA, ia sempat merantau ke Palembang untuk bekerja di toko kelontong. Tapi pandemi 2020 memaksanya pulang kampung.
Di rumah, ia kembali membantu ibunya membuat gula aren dari nira pohon enau. Prosesnya tradisional: menjerang cairan di kuali besar hingga mengental dan mencetaknya menjadi batangan. Penjualannya pun terbatas, hanya di pasar kecamatan.
Namun pada suatu sore, seorang penyuluh dari program Desa Sejahtera Astra (DSA) datang berkunjung ke desa mereka.
“Waktu itu saya bahkan belum tahu apa itu Astra selain merek mobil,” kata Mila sambil tertawa. “Tapi mereka datang, dengarkan cerita kami, dan bilang: produk seperti ini bisa punya nilai tinggi kalau dikembangkan.”
Dari situlah semuanya berubah.

Pelatihan dan Keberanian
Melalui DSA, Mila dan beberapa pemuda desa diundang mengikuti pelatihan di Palembang. Mereka belajar tentang pengemasan modern, manajemen keuangan, hingga pemasaran digital. Salah satu mentor dari Astra mengajarkan dasar branding.
“Kalau kamu jual gula, orang hanya beli karena butuh. Tapi kalau kamu jual cerita, orang beli karena percaya,” ujar sang mentor waktu itu.
Kalimat itu menancap kuat di ingatan Mila. Sekembalinya ke desa, ia mulai bereksperimen. Ia mengubah proses pembuatan, mengeringkan gula aren menjadi bentuk serbuk halus gula semut yang lebih tahan lama dan praktis digunakan untuk kopi, teh, atau kue.
Ia juga membentuk kelompok usaha bersama delapan perempuan lain di desa. Mereka menamai kelompok itu “Serelo Manis”, terinspirasi dari gunung yang menaungi kehidupan mereka.
“Awalnya kami tidak yakin bisa. Tapi setelah beberapa kali pelatihan, kami berani mencoba. Astra bantu alat produksi sederhana dan kemasan. Sekarang produksi kami 30 kilogram per minggu,” ujar Mila.
Jejak di Pasar Digital
Kini, di ruang tamu rumah Mila yang juga berfungsi sebagai kantor kecil, terpajang lemari kaca berisi deretan produk: Gula Semut Serelo Manis, Kopi Gula Aren, hingga Sirup Nira Enau. Di dinding, tergantung sertifikat pelatihan kewirausahaan dari Astra.
“Dulu kami cuma jual di pasar Minggu di Lahat. Sekarang sudah sampai ke Palembang, bahkan dikirim lewat toko online ke Jakarta dan Bandung,” ujarnya.
Setiap kemasan gula semut buatan Mila kini memiliki kode produksi dan QR code yang mengarahkan pembeli ke cerita di balik produk. “Kami ingin orang tahu: setiap butir gula ini berasal dari tangan-tangan ibu di desa kami,” katanya.
Dampaknya terasa luas. Dalam dua tahun, pendapatan kelompok “Serelo Manis” naik tiga kali lipat. Delapan keluarga kini memiliki penghasilan tetap. Anak-anak mereka bisa melanjutkan sekolah tanpa khawatir biaya.
“Bukan hanya uangnya,” kata Yanti, salah satu anggota kelompok. “Tapi rasa percaya diri kami tumbuh. Kami bukan lagi penjual kecil di pasar, kami pengusaha desa.”

Gerak Bersama, Dampak Nyata
Program DSA tidak berhenti di pelatihan. Astra juga membantu memperkuat jaringan dengan koperasi dan komunitas lokal. Mila kini menjadi fasilitator bagi desa-desa tetangga yang ingin mengembangkan produk lokalnya.
“Saya pernah diajak ke Musi Rawas, bantu ibu-ibu belajar bikin gula semut juga. Mereka semangat sekali. Rasanya bangga bisa berbagi,” ujarnya.
Bagi Mila, keberhasilan ini bukan miliknya sendiri. Ia menyebutnya sebagai hasil dari “gerak bersama” semangat yang menjadi inti dari tema Anugerah Pewarta Astra 2025: Satukan Gerak, Terus Berdampak.
“Kalau tidak ada kerja sama, kami tidak akan sejauh ini,” ucapnya. “Anak muda, ibu rumah tangga, perangkat desa, semua ikut. Kami saling belajar, saling dorong.”
Manis yang Berkelanjutan
Menjelang siang, matahari makin tinggi. Mila berjalan ke belakang rumah, ke kebun kecil di mana beberapa batang pohon enau tumbuh rindang. Di sana, dua lelaki memanjat batang pohon dan menampung nira ke dalam bambu.
“Ini bahan baku utama gula semut,” jelasnya. “Dulu banyak pohon enau ditebang karena dianggap tak berguna. Sekarang, orang mulai menanam lagi. Lingkungan kami ikut terjaga.”
Ia bercerita, kelompoknya kini juga menanam bibit enau baru di lahan bekas tambang kecil di pinggir desa program ini didukung oleh fasilitator lingkungan DSA.
“Kami ingin usaha ini bukan hanya bertahan, tapi memberi kehidupan untuk anak cucu kami,” katanya pelan.
Antara Bukit dan Harapan
Menjelang sore, angin lembut bertiup dari arah bukit. Dari jendela rumah produksi, terlihat anak-anak berlari di jalan tanah, membawa bungkusan gula semut untuk diantarkan ke koperasi desa. Mila duduk di teras, menatap matahari yang mulai condong ke barat.
“Kadang saya masih tak percaya, semua ini bisa terjadi di desa kecil seperti ini,” ujarnya sambil tersenyum. “Dulu saya ingin pergi dari sini. Sekarang saya ingin tinggal dan membangun di sini.”
Di matanya, lereng Bukit Serelo tak lagi sekadar pemandangan indah tapi saksi dari sebuah perjalanan perubahan.
Dari dapur sederhana, dari tetes nira yang direbus saban pagi, dari tangan-tangan yang sabar mengaduk, tumbuhlah harapan baru: ekonomi desa yang mandiri, lingkungan yang lestari, dan semangat generasi muda yang tak takut bermimpi.
“Selama kita bergerak bersama,” kata Mila menutup percakapan, “dampaknya akan terus terasa seperti manisnya gula semut yang tak pernah benar-benar hilang di lidah.”














