MATTANEWS.CO, PEMALANG – Antusiasme masyarakat Desa Banjardawa, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, terlihat tinggi dalam mengikuti kegiatan pelatihan menjahit yang digelar selama empat hari di GCC Gandulan Culinary Center. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya peningkatan keterampilan masyarakat sekaligus mendorong kemandirian ekonomi warga.
Pelatihan yang berlangsung di kawasan wisata kuliner Gandulan tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan usia, mulai dari generasi muda hingga warga lanjut usia. Semula, jumlah peserta direncanakan sebanyak 30 orang, namun dalam pelaksanaannya meningkat menjadi 37 peserta.
Kepala Desa Banjardawa, Sukandar, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan realisasi dari aspirasi masyarakat yang diajukan melalui pokok pikiran (pokir) anggota dewan sejak tahun 2025.
“Pengajuan proposal dilakukan pada tahun 2025 kepada salah satu anggota dewan, dan alhamdulillah pada tahun 2026 ini dapat terealisasi,” ujar Sukandar saat ditemui pada Jumat (8/5/2026).
Ia mengaku jumlah peserta yang melebihi target awal menjadi bukti tingginya minat masyarakat terhadap pelatihan keterampilan. Menurutnya, hal tersebut justru menjadi nilai positif selama seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan memperoleh manfaat.
Terkait adanya wacana program kredit 0 persen, Sukandar menyampaikan bahwa pihak desa masih menunggu kejelasan realisasi dari pemerintah daerah. “Kemungkinan itu merupakan program dari Bupati, dan kami masih menunggu bagaimana pelaksanaannya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sukandar berharap pelatihan menjahit ini tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Ia mendorong peserta untuk mengimplementasikan keterampilan yang telah diperoleh sebagai peluang usaha.
“Semoga pelatihan ini benar-benar bermanfaat, berdaya guna, dan mampu membangkitkan perekonomian warga Banjardawa,” ujarnya.
Selain pelatihan menjahit, Pemerintah Desa Banjardawa juga telah mengajukan sejumlah program pelatihan lainnya, seperti keterampilan mengelas dan tata boga. Bahkan, pihak desa berencana mengembangkan produk unggulan lokal berupa kue khas jenis egg roll agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Untuk mendukung hal tersebut, Sukandar berharap adanya peran aktif dari instansi terkait, khususnya dinas tenaga kerja, dalam memberikan pendampingan lanjutan, termasuk strategi pemasaran yang tepat agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Ia juga menargetkan pada tahun 2027 mendatang dapat kembali digelar pelatihan lanjutan, khususnya dalam pengolahan dan pengembangan produk egg roll sebagai potensi unggulan desa.
“Pesan saya kepada masyarakat, manfaatkan ilmu yang didapat. Jangan berhenti pada pelatihan saja, tetapi jadikan sebagai peluang usaha nyata yang dapat memperbaiki kondisi ekonomi masing-masing,” pungkasnya.














