BERITA TERKINI

Bantah Tudingan Direktur RSUD Kayuagung Beberkan Sejumlah Fakta

×

Bantah Tudingan Direktur RSUD Kayuagung Beberkan Sejumlah Fakta

Sebarkan artikel ini

Reporter : Rahmat

OKI, Mattanews.co – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayuagung dr Mirda Zulaikha memandang, dirinya merasa perlu meluruskan kabar miring terkait kinerja pegawainya. Meskipun menurutnya tidak sepenuhnya benar, namun sedikitpun tidak nampak rona kekesalan yang ditunjukkan dokter berhijab ini.

Padahal, atas pemberitaan tersebut, bukan hanya dirinya sebagai pimpinan saja, tetapi mempertaruhkan nama baik RSUD Kayuagung, sebagai sebuah pusat pelayanan kesehatan terbesar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) saat ini, bukan tak mungkin turut tercoreng di hadapan publik.

“Sudah terbiasa menghadapi seperti ini, pelayan medis terkadang harus lebih banyak memaklumi ketimbang harus berdebat. Apalagi disaat berhadapan dengan pasien yang memposisikan lebih mengerti dari tenaga medis itu sendiri,” jelas Mirda, di RSUD Kayuagung, Jumat (06/03/2020).

Dirinya juga mengutarakan, setelah mendapat kabar itu, pihaknya langsung memastikan kebenaran informasi termasuk memeriksa catatan medis pasien. Namun ia menepis apa yang dilakukan pihaknya untuk mencari pembenaran.

“Bukan sebagai pembelaan ya, tapi untuk lebih memastikan saja kejadiannya seperti apa. Kan, lebih baik ditanyakan langsung,” terang Milda di RSUD Kayuagung,

Pernyataan menyejukkan tersebut mengantarkan Mirda menelusuri awal kejadian silang pendapat antara perawat dan salah satu pasien.

“Ada info dari pasien yang tidak sinkron dari awal. Disaat hendak diberi tindakan, Pasien tersebut dinyatakan menderita demam. Keadaan seperti itu jelas tidak diperbolehkan untuk operasi,” katanya.

Disinilah menurutnya awal kekeliruan bermulai. Milda mengungkapkan, kondisi pasien dilaporkan perawat ke dokter. Belakangan, keluarga pasien justru menuding telah dituduh sebagai korban virus Covid-19.

“Malah ceritanya semakin liar. Selain merasa dituduh, keluarga pasien mengatakan akibat alergi suntikan sehingga tubuh pasien meningkat. Padahal, dokter saya mendapatkan laporan resmi dari RSMH. Dari seluruh laporan tidak sedikitpun menyebut tentang alergi obat bius,” urainya.

Pemenuhan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien, dikatakan dia mengikuti protokol Tata Laksana, proses melahirkan yang disertai demam dirujuk ke rumah sakit dengan tipe A.

“Sebelumnya, Kepala Departement Obgyn RSMH mendukung rujukan pasien dari pihaknya setelah RSUD melakukan konfirmasi,” ujarnya.

Dirinya juga tidak sepakat dianggap telah menelantarkan pasien. Malahan menurutnya, keluarga pasien dinilai lamban memutuskan sehingga mereka tertahan di rumah sakit.

“Setelah akan dirujuk ke RSMH, pasien tidak langsung dibawa keluarganya. Alasannya mau berembuk dulu sampai ada keputusan baru. Hingga keesokan harinya, pasien baru dibawa keluarganya menuju RSMH Palembang. Bukan ditelantarkan tapi atas kehendak pasien sendiri,” tandasnya.

Editor : Anang