MATTANEWS.CO, ACEH TAMIANG – Pimpinan DPRK Aceh Tamiang bersama anggota Komisi III mendatangi Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut di Medan. Kunjungan tersebut untuk meminta penjelasan terkait kelangkaan BBM subsidi jenis Pertalite dan Biosolar yang terjadi di Aceh Tamiang selama sepekan terakhir, Selasa (14/7/2026).
Rombongan dipimpin Ketua DPRK Aceh Tamiang Fadlon, SH dan Wakil Ketua DPRK Muhammad Nur, SE. Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut hasil peninjauan lapangan Komisi III ke sejumlah SPBU di Aceh Tamiang yang menemukan antrean panjang akibat terbatasnya pasokan BBM. Ketua DPRK Aceh Tamiang, Fadlon SH, mengatakan tujuan datangi Pertamina karena pihaknya ingin memperoleh penjelasan langsung mengenai penyebab kelangkaan serta langkah konkret untuk mengembalikan distribusi BBM agar kembali normal.
“Kami ingin mendengar langsung penjelasan dari Pertamina mengenai apa yang sebenarnya terjadi sehingga kelangkaan BBM di Aceh Tamiang dapat segera diatasi,” kata Fadlon.
Ia berharap pasokan BBM segera pulih mengingat masyarakat Aceh Tamiang baru saja melewati masa sulit pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.
“Jangan sampai masyarakat kembali dibebani dengan kesulitan memperoleh BBM. Ketersediaan bahan bakar sangat penting untuk mendukung aktivitas warga, mulai dari bekerja di kebun, melaut hingga kebutuhan sehari-hari,” sebutnya.
Menanggapi hal itu, Sales Area Manager (SAM) Retail Medan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Tito Rivanto Marsono, menjelaskan kelangkaan BBM dipicu oleh akumulasi sejumlah faktor
Menurutnya, permintaan BBM meningkat selama masa libur kenaikan kelas. Di saat yang sama, kerusakan satu unit mobil tangki di jalur Berastagi menyebabkan kemacetan lebih dari satu hari sehingga menghambat distribusi ke sejumlah wilayah, termasuk Aceh Tamiang.
“Seluruh armada yang melayani wilayah Medan, Karo, Tapaktuan, Subulussalam, Gayo Lues hingga Aceh Tamiang sempat terhenti total,” terangnya.
Disamping itu, Pertamina juga menghadapi kendala dari mitra pengangkut akibat persoalan kedisiplinan pengemudi yang berujung pada restrukturisasi, ditambah perubahan manajemen internal yang turut memengaruhi kelancaran distribusi. Faktor lainnya adalah meningkatnya konsumsi Biosolar setelah adanya selisih harga hingga Rp 20.000 dibandingkan Dexlite. Kondisi tersebut membuat banyak kendaraan besar beralih menggunakan Biosolar sehingga permintaan melonjak sekitar 20 hingga 30 persen.
“Pertamina menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi dan memastikan proses pemulihan distribusi terus dilakukan. Sebagai langkah percepatan, Pertamina memprioritaskan pengiriman BBM dari Depo Medan. Alokasi pasokan untuk Aceh Tamiang juga akan ditingkatkan dari sekitar 8 ton menjadi sedikitnya 16 ton per hari guna memenuhi kebutuhan Pertalite dan Biosolar di wilayah itu,” pungkasnya.














