NUSANTARA

Begini Awal Mula Wisata Kebun belimbing Moyoketen Tulungagung Jawa Timur

×

Begini Awal Mula Wisata Kebun belimbing Moyoketen Tulungagung Jawa Timur

Sebarkan artikel ini

Reporter : Gunawan

TULUNGAGUNG, Mattanews.co– Wisata belimbing di Desa moyoketen Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur merupakan salah satu destinasi wisata yang selalu ramai pengunjung, bukan tanpa sebab, karena wisata tersebut menyajikan pemandangan yang indah, sejuk nan asri, belimbing-belimbingnya khas, berukuran besar dan sangat manis.

Untuk menuju lokasi bisa ditempuh dari pusat kota Tulungagung menuju ke barat sekitar 800 meter. Sampai Jembatan lembu peteng belok ke kiri menuju lokasi sekitar 1,5 Km. Aksesnya mulus. Dengan disajikan pemandangan serta sejuknya kali Ngrowo. Bus pariwisata bisa masuk lokasi. Tersedia lahan parkir yang nyaman.

Namun hanya sedikit orang yang tau awal mula terjadinya agrowisata belimbing tersebut. Salah satu pengelola wisata, Waras menceritakan awal mulanya kebun belimbing ini dimulai pada tahun 1982, pada saat itu hanya keluarganya saja yang baru menanam belimbing, itupun belimbing biasa, belum seperti sekarang.

“Saat itu hanya coba-coba dulu, namun saya rasa hasilnya kok begitu menggiurkan,”ucapnya.

Setelah dirasa belimbing lebih menguntungkan di banding buah lain, karena dapat berbuah setiap hari tanpa mengenal musim, serta kondisi tanah yang mendukung, barullah pada tahun 1991 mulai keinginan mengembangkan bibit belimbing lain.

“Dari situ mulailah mengamati berbagai jenis, dan dari sekian yang diamati, lalu memilih jenis belimbing bangkok merah. Itupun baru mencoba menanam hanya sekitar 5 pohon”, kata waras saat di temui di kedimanya yang terletak di sekitar lokasi wisata, Rabu (15/07/2020).

“Setelah dirasa buahnya lebih enak serta banyak diminati pembeli ketimbang belimbing biasa, mulailah warga sekitar ikut ramai menanam, sehingga daerah sekitar menjadi commodity belimbing. Bahkan samapai saat ini di desa moyoketen sendiri sudah mencapai 10-11 hektar kebun belimbing, belum lagi di tambah wilayah desa tetangga sekitar,”ujarnya.

Waras menyambungkan, pada tahun 2001 ketika harga belimbing murah di pasaran, antara perawatan dengan harga penjualan tidak seimbang, menyebabkan petani rugi besar. Dari situ barullah timbul ide menjadikan daerah ini sebagai agrowiasata belimbing. Yang diharapkan dapat mendongkrak ekonomi petani.

“Dari tahun 2001 itu kami terus berusaha untuk berbenah, mulai dari segi wisata kami perbaiki agar lebih bagus, lebih indah dan dapat menarik pengunjung. Dari segi perawatan juga kami terus perbaiki, supaya pohon bisa berbuah banyak, menjadi lebih manis, dan tidak makan hama”, terangnya.

Editor : Poppy Setiawan