BERITA TERKINI

Faktor Pendukung Pendidikan Di Daerah Terpencil

×

Faktor Pendukung Pendidikan Di Daerah Terpencil

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Oleh : Ricky Faerdinal

Pendidikan adalah salah satu hak asasi manusia, dan sudah semestinya semua masyarakat di Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan juga adalah salah satu jalan utama untuk meningkatkan kualitas kehidupan, manusia terutama di Indonesia.

Kurangnya sarana dan prasana dari pemerintah, akan membuat semakin terpuruknya generasi muda bangsa Indonesia di era globalisasi, dan pastinya di kancah internasional. Kurangnya sarana dan prasarana, seperti jumlah guru yang terbatas, fasilitas yang tidak memadai di daerah terpencil, sering menjadi suatu masalah yang sering dianggap sebagai faktor utama kurangnya pendidikan di daerah terpencil. Jumlah guru yang sedikit di daerah terpencil terjadi karena kurangnya perhatian dari pemerintah atas gaji dan tunjangan yang diterima oleh guru di daerah terpencil, berakibat pada kurangnya minat generasi muda untuk menjadi tenaga pendidik yang menjadi faktor pembangun bangsa.

Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua terhadap pendidikan dan masa depan anaknya juga menjadi sumber permasalahan di dunia pendidikan. Meski saat ini pemerintah sudah memberikan tunjangan bagi peserta didik yang kurang mampu, namun terkadang orang tua, menggunakan dana tersebut kemungkinan besar bukan untuk kebutuhan belajar pembelajaran peserta didik, sehingga fasilitas sarana dan prasaranan masih belum juga terpenuhi dengan baik.

Tak hanya itu, ini dikabarkan di beberapa desa, akses jalan menuju sekolah menjadi persoalan bagi pendidik dan peserta didik. Namun, hal ini juga sebenarnya telah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, sebagai wujud pemerataan pembangunan diberbagai daerah setiap Kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu. Apalagi, Bupati Labuhanbatu semenjak dipimpin H. Andi Suhaimi Dalimunthe ST MT, program pembangunan terfokus kepada pemberdayaan masyarakat. Seperti, beasiswa kepada putra-putri daerah yang memiliki prestasi, beasiswa bagi putra-putri yang memiliki keinginan, untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi namun perekonomian keluarga tidak mampu, hingga sampai pelatihan kepada pemuda-pemudi yang ingin menambah ketrampilan.

Wujud program pembangunan H Andi Suhaimi Dalimunthe kepedulian terhadap pendidikan di Kabupaten Labuhanbatu ternyata seiring dengan progam pemerintah pusat. Pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan sumber daya manusia, H Andi Suhaimi Dalimunthe selalu tetap menekankan, bahwa putra-putri asli daerah Kabupaten Labuhanbatu tidak hanya menjadi seorang penonton, melainkan harus menjadi sebuah pemimpin atau penggagas pembangunan sangat berarti dan bermanfaat bagi masyarakat

Mengupas kembali tentang faktor pendukung pendidikan di daerah terpencil, seperti yang disebutkan diatas, yakni kurangnya sarana dan prasarana, jumlah guru yang terbatas, fasilitas yang tidak memadai di daerah terpencil sering menjadi suatu masalah yang sering dianggap sebagai faktor utama kurangnya pendidikan di daerah terpencil. Mari kita kupas secara garis besar.

Berbagai masalah yang menghambat proses pendidikan di suatu daerah masih sering muncul. Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil. Sarana dan prasarana ini meliputi gedung sekolah beserta fasilitasnya, serta peralatan-peralatan sekolah yang menunjang proses belajar mengajar di suatu sekolah, atau lembaga tempat belajar. Sering kita lihat pembangunan gedung-gedung sekolah megah diperkotaan dengan fasilitas yang memadai untuk kegiatan belajar mengajar. Namun hal itu akan berbanding terbalik ketika kita melihat keadaan yang sebenarnya di daerah terpencil. Tidak ada fasilitas yang cukup memadai untuk menunjang kemajuan proses belajar mengajar yang mereka lakukan. Gubug-gubug reyot yang mereka sebut sebagai gedung sekolah tidak mampu memberikan fasilitas yang memadai sebagaimana sekolah-sekolah normal pada umumnya.

Pada kenyataannya, pembanguan fisik sekolah-sekolah di wilayah perkotaan terus menjamur, seiring dengan dikeluarkannya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) oleh pemerintah. Sayangnya perhatian pemerintah tentang pendidikan yang disalurkan lewat dana BOS tersebut tidak begitu nyata dirasakan dampaknya oleh masyarakat atau sekolah-sekolah di daerah pedalaman atau daerah terpencil.

Gembar-gembor dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah membahana ke seluruh pelosok negeri, namun pada kenyataannya wujud fisik dari dana BOS tersebut tidak pada sekolah-sekolah di daerah terpencil. Hal ini terjadi biasanya disebabkan oleh masalah-masalah klasik seperti hambatan pada transportasi dan komunikasi. Selain itu hambatan dari manusianya sendiri sering menjadi salah satu alasan pendistribusian dana BOS yang tidak tersalurkan. Hambatan manusia ini dapat berupa KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh aparat-aparat yang bertugas dalam pendistribusian dana BOS, sehingga tidak tersampaikan kepada sekolah-sekolah di daerah terpencil sebagaimana mestinya. Masalah inilah yang sebenarnya sulit dihindari, bila dibandingkan dengan masalah transportasi dan komunikasi, mengingat budaya korupsi masih menggerogoti mental di berbagai bidang.

Masalah yang tidak kalah menyita perhatian dalam pendidikan terutama di daerah terpencil, adalah masalah kualitas guru. Tuntutan mengajar seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan guru yang mengajar di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran di daerah terpencil. Sehingga seringkali seorang guru di daerah terpencil memutar otak untuk memenuhi hal tersebut. Apalagi bobot materi yang harus diajarkan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sejak diberlakukannya UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standar kelulusan bagi siswa-siswi sekolah menengah. Hal ini tentunya menambah beban mental bagi guru di pedalaman, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu di daerah terpencil, seorang guru di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggungjawabnya sebagai seorang guru. Namun sayangnya perhatian pemerintah kepada para guru di daerah-daerah terpencil kurang. Beban yang ditanggung oleh seorang guru di daerah terpencil tidak sebanding dengan imbalan yang didapatkan.

Selain kurang diperhatikannya nasib guru di daerah terpencil, sistem perekrutan guru di daerah terpencil juga kurang baik. Biasanya guru yang terdapat di daerah terpencil bukanlah seseorang yang ahli di bidangnya. Seringkali guru di daerah pedalaman, adalah seseorang dengan ilmu dan kemampuan mengajar yang seadanya. Hal ini biasanya disebabkan karena guru yang direkomendasikan untuk mengajar hanya lulusan sekolah menengah saja, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimal.

Selain kedua masalah pendidikan yang melilit daerah terpencil tersebut, masalah keadaan lingkungan dan kondisi masyarakat di daerah terpencil juga mempengaruhi berlangsungnya proses pendidikan di daerah terpencil. Di daerah terpencil biasanya belum banyak adanya pembangunan seperti di daerah perkotaan, yaitu pembangunan jalan, jembatan dan lain sebagainya. Hal ini menghambat perjalanan siswa dan guru yang akan pergi dan pulang sekolah. Seorang siswa atau pendidik yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan lama kelamaan akan menyerah dengan kondisi ini, dan terjadilah putus sekolah. Selain kendala kondisi lingkungan, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih kurang. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah pondasi awal yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan pembangunan di daerah tersebut. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menginfestasikan hartanya untuk hal-hal yang menurut mereka lebih berguna bila dibandingkan dengan pendidikan. Selain itu, terkadang mereka lebih rela menikahkan anak-anak mereka di usia muda dibanding menyekolahkan mereka, karena sekolah bagi sebagian dari mereka adalah sesuatu yang hanya akan memperparah kemiskinan mereka.

Berbagai dampak dari masalah muncul seiring dengan memanasnya masalah pendidikan yang dialami oleh daerah terpencil. Dampak dari masalah-masalah tersebut antara lain, kemajuan mutu pendidikan di suatu daerah terpencil akan terhambat. Mutu pendidikan di daerah terpencil tidak akan pernah sama dengan mutu pendidikan di daerah perkotaan selama masalah-masalah pendidikan di daerah terpencil belum dapat teratasi. Selain itu, masalah-masalah tersebut menyebabkan tertinggalnya pembangunan suatu daerah dengan daerah lainnya. Seperti yang telah disebutkan bahwa, kemajuan pendidikan di suatu daerah merupakan wujud dari kemajuan pembangunan di suatu daerah. Jadi suatu daerah akan baik pembangunannya bila pendidikannya maju, dan sebaliknya suatu daerah akan terpuruk pembangunannya bila mutu pendidikannya pun terpuruk. Hal ini bisa menyebabkan masyarakat di suatu daerah dipandang sebelah mata oleh masyarakat di daerah lain yang pendidikan dan pembangunanya lebih maju. Sehingga hal ini tidak baik bila terus menerus diabaikan.

Masalah-masalah pendidikan di daerah terpencil tidak baik bila diabaikan begitu saja. Dalam hal ini pemerintah seharusnya mempunyai langkah-langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkah tersebut bisa berwujud perhatian yang lebih dari pemerintah dan masyarakat, maupun pengawasan yang lebih intensif terhadap pendidikan di daerah terpencil. Wujud perhatian yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada sekolah-sekolah di daerah terpencil adalah meningkatkan sarana dan prasarana yang masih minim, memperbaiki kualitas guru dengan memberikan suport materi dan motivasi secara personal, mengingat perjuangan seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan dengan guru di daerah perkotaan. Hal ini bisa dilakuukan dengan penaikan gaji guru di daerah terpencil, serta seringnya diadakan perukaran guru antar daerah agar guru di daerah terpencil dapat termotivasi semangatnya.

Selain itu, perlu dilakukan pengawasan terhadap berbagai jenis bantuan yang akan digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana, kualitas guru dan penunjang pendidikan lainnya. Hal ini bisa direalisasikan dengan semangat otonomi daerah, sehingga pengawasan pemerintah terhadap pendidikan di daerah-daerah terpencil lebih optimal.

Oleh karena itu, tidak hanya pemerintah yang harus berperan dalam memajukan pendidikan di daerah terpencil, namun peran serta dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dalam suatu kehidupan juga menjadi peran penting dalam memajukan pendidikan dan selanjutnya pembangunan di suatu daerah, terutama daerah terpencil.

Daerah terpencil merupakan daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan. Pelayanan pendidikan khususnya untuk daerah-daerah terpencil masih minim. Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil dimana perhatian pemerintah tentang pendidikan yang disalurkan lewat dana BOS tidak begitu nyata dirasakan dampaknya oleh masyarakat atau sekolah-sekolah di daerah pedalaman atau daerah terpencil. Gembar-gembor dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah membahana ke seluruh pelosok negeri, namun pada kenyataannya wujud fisik dari dana BOS tersebut tidak pada sekolah-sekolah di daerah terpencil.

Masalah-masalah klasik seperti hambatan pada transportasi dan komunikasi. Selain itu hambatan dari manusianya sendiri sering menjadi salah satu alasan pendistribusian dana BOS yang tidak tersalurkan. KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh aparat-aparat yang bertugas dalam pendistribusian dana BOS. budaya korupsi masih menggerogoti mental oknum di berbagai bidang. Masalah yang tidak kalah menyita perhatian dalam pendidikan terutama di daerah terpencil adalah masalah kualitas guru.

Tuntutan mengajar seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan guru yang mengajar di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran di daerah terpencil. Apalagi bobot materi yang harus diajarkan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sejak diberlakukannya UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standar kelulusan bagi siswa-siswi sekolah menengah. Hal ini tentunya menambah beban mental bagi guru di pedalaman, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu di daerah terpencil, seorang guru di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Selain kurang diperhatikannya nasib guru di daerah terpencil, sistem perekrutan guru di daerah terpencil juga kurang baik. Seringkali guru di daerah pedalaman adalah seseorang dengan ilmu dan kemampuan mengajar yang seadanya. Hal ini biasanya disebabkan karena guru yang direkomendasikan untuk mengajar hanya lulusan sekolah menengah saja, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimum.

Selain kedua masalah pendidikan yang melilit daerah terpencil tersebut, masalah keadaan lingkungan dan kondisi masyarakat di daerah terpencil juga mempengaruhi berlangsungnya proses pendidikan di daerah terpencil. belum banyak adanya pembangunan seperti di daerah perkotaan, yaitu pembangunan jalan, jembatan dan lain sebagainya. Hal ini menghambat perjalanan siswa dan guru yang akan pergi dan pulang sekolah. Seorang siswa atau pendidik yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan lama kelamaan akan menyerah dengan kondisi ini, dan terjadilah putus sekolah. kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih kurang. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah pondasi awal yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan pembangunan di daerah tersebut. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menginfestasikan hartanya untuk hal-hal yang menurut mereka lebih berguna bila dibandingkan dengan pendidikan. terkadang mereka lebih rela menikahkan anak-anak mereka di usia muda dibanding menyekolahkan mereka, karena sekolah bagi sebagian dari mereka adalah sesuatu yang hanya akan memperparah kemiskinan mereka

Pemerintah harus lebih peduli terhadap pendidikan di daerah terpencil, karena semua akan berjalan dengan baik jika top manajemennya dalam hal ini pemerintah, mampu dan mau untuk lebih peduli peduli terhadap pendidikan di daerah terpencil. Dengan kepedulian pemerintah, lalu didukung oleh semua sarana pendukung. Maka pendidikan di daerah terpencil tidak akan tertinggal dan akan lebih layak. Dengan kata lain, faktor pendukung pendidikan di daerah terpencil merupakan factor yang menjadi persoalan dalam pendidikan di daerah terpencil.