BERITA TERKINIEKONOMI & BISNISHEADLINEPEMPROV SUMSEL

Harga Naik, Untung Tak Bergerak: Industri Sawit Sumsel Terjepit Biaya dan Birokrasi

×

Harga Naik, Untung Tak Bergerak: Industri Sawit Sumsel Terjepit Biaya dan Birokrasi

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Kenaikan harga kelapa sawit yang belakangan terjadi ternyata belum mampu mengangkat keuntungan pelaku industri. Di Sumatera Selatan, produsen justru menghadapi tekanan berlapis biaya operasional melonjak, distribusi tersendat, hingga perizinan yang belum sepenuhnya efisien.

Isu ini mengemuka dalam Forum VI Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumsel yang digelar di Palembang, Kamis (16/4/2026). Alih-alih euforia harga, pelaku usaha justru menyoroti margin yang tetap stagnan.

Ketua GAPKI Sumsel, Alex Sugiarto, mengungkapkan bahwa lonjakan harga pupuk hingga hampir 30 persen menjadi salah satu beban terbesar. Di saat yang sama, biaya logistik ikut terdorong naik akibat dinamika global, termasuk konflik geopolitik yang memengaruhi rantai pasok.

“Harga memang naik, tapi biaya juga melonjak. Pada akhirnya margin tidak banyak berubah,” ujarnya lugas.

Kondisi ini diperparah oleh tantangan struktural di dalam negeri. Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan proses perizinan yang masih menjadi hambatan dalam pengembangan perkebunan, termasuk dalam program peremajaan sawit rakyat (replanting).

Padahal, replanting dinilai sebagai kunci untuk keluar dari jebakan produktivitas rendah. Saat ini, rata-rata produksi sawit Sumsel berada di kisaran 3 ton per hektare, angka yang masih bisa ditingkatkan secara signifikan.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan bahwa tanpa percepatan replanting, sulit bagi daerah untuk meningkatkan daya saing. Ia juga menyoroti persoalan klasik yang membuat petani enggan melakukan peremajaan: lamanya masa tunggu hingga tanaman kembali menghasilkan.

Namun, ia menyebut mulai ada terobosan baru yang dapat memangkas masa tunggu tersebut menjadi sekitar dua tahun.

“Kalau ini bisa diterapkan luas, maka hambatan psikologis dan ekonomi petani akan jauh berkurang,” katanya.

Sumatera Selatan sendiri merupakan salah satu lumbung sawit nasional, dengan luas perkebunan mencapai sekitar 1,3 juta hektare dan produksi crude palm oil (CPO) sekitar 4 juta ton per tahun. Potensi peningkatan produksi masih terbuka lebar, bahkan bisa mencapai hingga 7 juta ton jika efisiensi dan replanting berjalan optimal.

Meski begitu, pelaku industri mengingatkan bahwa potensi tersebut tidak akan tercapai tanpa pembenahan serius, terutama pada biaya input dan kepastian regulasi.

Forum ini pun menjadi semacam “alarm” bagi pemerintah dan pemangku kepentingan: industri sawit tidak hanya membutuhkan harga tinggi, tetapi juga ekosistem yang sehat untuk benar-benar tumbuh.

Di tengah tekanan global dan domestik, satu pesan menguat dari Palembang, tanpa perbaikan fundamental, kenaikan harga hanyalah ilusi keuntungan.