Kuasa Hukum Korban Penganiayaan Mahasiswa UIN Raden Fatah Minta Proses Dipercepat

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Mangkirnya terduga kasus penganiayaan mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang dalam pemanggilan pemeriksaan konfrontir terduga para pelaku dengan korban pada hari Jumat 16 Desember 2022 kemarin oleh pihak Penyidik Unit 1 Jatanras Polda Sumsel berakhir pada penundaan.

Ketidakhadiran para saksi dan terduga pelaku itu, disayangkan kuasa hukum korban, Arya Lesmana Putra (19) dari LBH Sumsel Berkeadilan (SSB), Kms Sigit Muhaimin SH.

“Pada tanggal 08 Desember 2022, kami melayangkan surat permohonan surat penegakan hukum kepada Bapak Kapolda Sumsel, Irjen Pol Albertus Rachmad Wibowo SIK. Marena kasus yang kami dampingi lebih kurang berjalan dari tanggal 04 Oktober 2022 sampai sekarang. Maka layangkan surat ini agar bapak Kapolda Sumsel dapat penegakan hukum,” ucapnya saat di temui di kantor LBH Sumsel Berkeadilan (SSB), Saptu (17/12/2022).

Sigit menjelaskan, adupun kasus ini sudah menjadi atensi publik untuk segara ada kepastian hukum. Karena menindaklanjuti kasus-kasus yang sebelumnya. Seperti kasus penamparan anggota dewan di SPBU dan sebagainya, itu bergulirnya tidak sampai berbulan-bulan seperti ini.

“Harapan kami bisa menindaklanjuti sesegera mungkin, untuk sejauh ini sudah sangat baik dan kami juga sangat mengapresiasi pada Unit 1 Jatanras Polda Sumsel,” tambahnya.

Sementara di tempat yang sama, Kuasa Hukum korban, Frengki Adiatmo berharap, kepolisian segera menetapkan status tersangka.

“Apa lagi saat ini sudah ada pengakuan langsung dari terduga daripada pelaku,” ucapnya.

Selain itu, dirinya menilai pihak Rektorat UIN Raden Fatah Palembang sepertinya melindungi mahasiswa yang melakukan pemukulan tersebut. Padahal kliennya itu (Arya) merupakan mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang juga, seharusnya mendapakan perlindungan juga.

Bacaan Lainnya

“Dari awal kasus ini pihak rektor ini membentuk tim investigasi hingga sampai sekarang ini belum ada hasil yang diumumkan oleh Rektor. Jadi kami selaku pihak kuasa hukum dari korban menganggap ini kelalaian dari pihak rektor. Bahkan perhatian buat korban pun sampai sekarang tidak ada,” tukasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dari ke 15 saksi dan terduga pelaku yang dipanggil, hanya satu orang yang datang memenuhi panggilan penyidik.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait