BERITA TERKINIEKONOMI & BISNIS

Menjahit Mimpi dari Lebung Gajah di Tengah Demam Piala Dunia

×

Menjahit Mimpi dari Lebung Gajah di Tengah Demam Piala Dunia

Sebarkan artikel ini
ROP

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Euforia Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tak hanya menghadirkan antusiasme di kalangan pecinta sepak bola. Di sebuah rumah sederhana di Jalan Kelingi No. 34, Kelurahan Lebung Gajah, Kota Palembang, semangat sepak bola itu juga menghadirkan harapan bagi sebuah usaha kecil yang tumbuh bersama denyut ekonomi masyarakat.

Suara mesin press dan printer sublimasi terdengar hampir setiap hari dari tempat usaha milik Aditiya. Bersama tiga orang karyawannya, ia memproduksi jersey sepak bola untuk klub kampung, sekolah, komunitas futsal hingga berbagai turnamen lokal di Sumatera Selatan.

Usaha pembuatan dan penjualan jersey yang dirintis sejak 2022 itu kini menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

“Awalnya saya hanya menerima pesanan sedikit dari teman-teman futsal. Lama-kelamaan mulai banyak klub kampung, sekolah dan komunitas yang memesan. Dari usaha ini saya bisa membantu ekonomi keluarga dan membuka pekerjaan bagi orang lain,” ujar Aditiya saat ditemui di tempat usahanya di Lebung Gajah, Juni 2026.

Saat ini, usaha tersebut mempekerjakan tiga orang karyawan, salah satunya Ujang, warga sekitar yang ikut menggantungkan penghasilannya dari usaha tersebut.

Dalam satu bulan, Aditiya memproduksi jersey custom dan menjual jersey non-custom untuk berbagai komunitas olahraga. Jersey custom dipasarkan dengan harga Rp75 ribu per lembar, sedangkan jersey non-custom dijual Rp60 ribu.

Pada periode ramai, terutama ketika turnamen sepak bola berlangsung dan antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia meningkat, omzet usahanya dapat mencapai sekitar Rp10 juta per bulan.

ROP

“Kalau sepak bola lagi ramai, biasanya pesanan juga ikut meningkat. Banyak komunitas atau tim yang ingin membuat jersey baru,” katanya.

Namun perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Persaingan dengan produk dari luar daerah, perkembangan pasar digital, hingga kebutuhan modal usaha menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Kami harus bersaing dengan produk dari luar daerah dan penjualan online. Kalau tidak terus berinovasi dan menjaga kualitas, pelanggan bisa pindah ke tempat lain,” ujarnya.

Salah satu titik penting dalam perkembangan usaha Aditiya terjadi pada 2024 ketika dirinya memperoleh fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Sumsel Babel sebesar Rp30 juta.

Dana tersebut digunakan untuk menambah modal usaha dan mendukung pengembangan produksi.

“Modal itu sangat membantu untuk mengembangkan usaha. Kami bisa menambah kebutuhan produksi dan memperbaiki peralatan yang digunakan,” katanya.

Selain memperoleh pembiayaan, Aditiya juga mengikuti pelatihan UMKM yang diselenggarakan Bank Sumsel Babel. Ia mengaku pelatihan tersebut memberikan pemahaman mengenai pengelolaan usaha dan transaksi digital.

Saat ini sekitar 70 persen transaksi pelanggan telah menggunakan QRIS Bank Sumsel Babel.

“Pembayaran sekarang lebih mudah. Pelanggan bisa langsung scan tanpa harus membawa uang tunai,” ujarnya.

Salah seorang pelanggan, Jery, mengaku memilih memesan jersey di tempat Aditiya karena kemudahan pemesanan dan kualitas produk yang sesuai dengan kebutuhan komunitas olahraga.

Keberadaan usaha seperti milik Aditiya menjadi gambaran bagaimana UMKM berperan dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat. Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga membuka lapangan kerja dan mendorong transaksi ekonomi lokal.

Direktur Utama Bank Sumsel Babel, Achmad Syamsudin, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

“Bank Sumsel Babel telah berkomitmen untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung,” ujar Achmad Syamsudin dalam keterangannya yang dipublikasikan pada Februari 2024.

Ia mengatakan Bank Sumsel Babel berupaya menjadi mitra pelaku usaha melalui pembiayaan, edukasi, dan pendampingan.

“BSB memiliki visi dan misi untuk menjadi mitra yang handal bagi para pelaku UMKM dalam mewujudkan potensi bisnis mereka,” katanya.

Menurutnya, penguatan UMKM tidak hanya dilakukan melalui akses permodalan.

“Dengan cara ini, bank dapat membantu para pelaku UMKM mengoptimalkan operasional dan meningkatkan daya saing mereka di pasar yang semakin kompleks,” ujarnya.

Sementara itu, Pimpinan Divisi Pengembangan Produk dan Pemasaran Bank Sumsel Babel, Ahmad Azhari, mengatakan pihaknya juga terus mendorong promosi dan pengembangan UMKM di daerah.

“Provinsi ini memiliki tujuh cabang konvensional dan syariah yang siap membantu meningkatkan promosi UMKM mitra binaan,” ujarnya pada program kolaborasi UMKM yang dipublikasikan pada Agustus 2024.

Bank Sumsel Babel juga menyatakan komitmennya untuk mendorong pelaku usaha lokal agar mampu naik kelas.

“Fokus kami adalah menjadi sahabat UMKM di wilayah Sumsel dan Babel untuk naik kelas menuju UMKM yang modern, digital dan global. Dengan UMKM naik kelas, ekonomi tumbuh dan masyarakat semakin sejahtera,” demikian pernyataan resmi perusahaan.

Pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya, Dr. Mohamad Adam, S.E., M.E., dalam berbagai kajian mengenai ekonomi daerah dan pengembangan UMKM menilai bahwa akses pembiayaan, literasi keuangan, dan digitalisasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha kecil.

Menurutnya, keberadaan bank pembangunan daerah memiliki posisi strategis karena lebih memahami karakteristik ekonomi masyarakat dan kebutuhan pelaku usaha di daerah.

Bagi Aditiya, usaha jersey yang dijalankannya bukan sekadar mencari keuntungan.

“Saya berharap usaha ini bisa terus berkembang. Kalau usaha kecil seperti kami maju, otomatis ekonomi keluarga juga ikut membaik dan bisa membuka peluang kerja bagi orang lain,” katanya.

Di tengah euforia Piala Dunia 2026 yang menyatukan perhatian jutaan pecinta sepak bola di seluruh dunia, sebuah usaha kecil di sudut Kota Palembang menunjukkan bahwa semangat olahraga juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat.

Dari rumah produksi sederhana di Lebung Gajah, tiga orang memperoleh pekerjaan, transaksi digital berkembang, dan sebuah usaha lokal terus bertahan serta tumbuh.

Bagi Aditiya, setiap lembar jersey yang diproduksi bukan sekadar pakaian olahraga. Di balik setiap jahitan terdapat harapan tentang keluarga, pekerjaan, dan masa depan yang terus diperjuangkan.