Pandemi Covid-19, Siraman Gong Kyai Pradah Digelar Sederhana

  • Whatsapp

Reporter : Robby

BLITAR, Mattanews.co Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar menggelar jamasan (siraman) Gong Kyai Pradah, di Alun-alun Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Sabtu (31/10/2020).

Bacaan Lainnya

Gong Kyai Pradah dimandikan setahun sekali, bertepatan dengan Bulan Maulud dalam penanggalan Islam.

Ada perbedaan prosesi pemandian Gong Kyai Pradah tahun ini, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bila tahun sebelumnya, ribuan warga datang untuk melihat dan memperebutkan air bekas yang digunakan untuk memandikan Gong Kyai Pradah.

Tahun ini tidak banyak dihadiri warga. Bahkan biasanya selama seminggu sebelum hari H, pelaksanaan pemandian ada pasar rakyat Tahun ini Pemkab Blitar tidak mengadakan kegiatan pasar rakyat.

Air sisa siraman Gong Kyai Pradah, diyakini masyarakat memiliki khasiat dapat mengabulkan apa yang diinginkan. Seperti rezeki lancar, awet muda dan mengobati penyakit.

Dalam pelaksanaan siraman Gong Kyai Pradah tahun ini, digelar dengan cara tertutup.

Bila sebelumnya siraman dilaksanakan di atas panggung, tahun ini dilakukan di joglo tempat penyimpanan Gong Kyai Pradah.

“Tahun ini digalar sesuai dengan protokol kesehatan dan edaran Kemendagri RI, semua yang terlibat menggunakan protokol kesehatan,” ungkap Pejabat sementara (Pjs) Bupati Blitar, Budi Santoso usai melaksanakan Pemandian Gong Kyai Pradah di Alun-alun, Kecamatan Sutojayan.

Budi menegaskan, yang terpenting tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun di Kabupaten Blitar, dapat dilaksanakan dengan baik.

Ia khawatir jika siraman Gong Kyai Pradah diumumkan, akan banyak warga yang datang justru dapat menjadi sarana penularan Covid-19.

“Ini salah satu cara untuk nguri-nguri budaya Jawa, yang penting tetap dilaksanakan,” ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Gong Gong Kyai Pradah dibuat oleh Sunan Rawu, kembaran Kyai Becak, pusaka R.M. Said atau Pangeran Mangkunegoro I.

Ada pula yang mengatakan, bahwa Kyai Pradah berasal dari Adipati Terung, kembaran dari tongkat sakti Tikus Jinodo yang diberi nama Kyai Macan, yang diturunkan kepada Kyai Pengging sebagai kembaran Bende Udan Arum.

Kyai Macan kemudian dipinjam oleh Sunan Kudus sebagai tengoro bagi lasykar Demak, sewaktu menyerang kerajaan Majapahit.

Mengenai riwayat gong tersebut sampai sekarang belum diperoleh sumber data yang pasti, hanya dari cikal bakal daerah Lodoyo dan cerita masyarakat. (ADV)

Editor : Nefri

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *