Perjuangan Masyarakat Membalong dalam Menuntut Hak dan Keadilan Atas Tata Kelola Perkebunan Sawit PT Foresta Lestari Dwikarya

Andika Widiyanto Mahasiwa Magister Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) UGM. (Ist)

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Dinamika dalam proses pengelolaan lingkungan yang melibatkan beragam aktor dalam perebutan benefit yang didapatkan dari sumber daya alam, nampaknya menjadi isu yang menarik untuk dianalisa. Terutama melihat bagaimana ‘struggling’ yang dihadapi oleh masyarakat yang menempati wilayah dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah. Seperti yang terjadi di Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung misalnya.

Potensi yang besar yang dimiliki oleh lahan di Belitong untuk ditanami sawit, nampaknya menjadi pengharapan lainnya selain pertambangan timah yang dapat dirasakan manfaat ekonominya oleh masyarakat. Namun, konflik yang terjadi belakangan ini yang melibatkan warga Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung menandakan beberapa hal problematis dalam dinamika tata kelola perkebunan sawit. Terutama, mengenai regulasi terkait dengan skema penerapan Plasma dan CSR (Corporate Social Responsibility) atas perkebunan sawit.

Oleh karena itu, penting untuk mengulas bagaimana Plasma dan CSR atas perkebunan sawit masih menjadi hal yang problematis dan belum jelas dalam implementasinya. Dalam konteks ini, tulisan ini akan mengulas bagaimana dinamika konflik yang terjadi antara masyarakat Kecamatan Membalong sebagai bentuk perjuangan mereka atas hak Plasma dan CSR perkebunan sawit yang dikelola oleh PT Foresta Lestari Dwikarya.

Bagikan :

Pos terkait