Platform Tik-Tok dan Kecaman Warganet

Oleh: Yegi Mahendra

Kemarin, tepat Ahad sore, penulis menemani Ayah membeli beberapa keperluan rumah tangga. Dalam perjalanan pulang, penulis dapati di emperan jalan, beberapa perempuan sedang asik berjoget ria sembari menghadap satu ponsel pintar yang mereka taruh  menyandar di pohon yang cukup tinggi menjulang.

Bacaan Lainnya

Saat itu, seketika penulis teringat pada satu aplikasi yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan, dan digunakan oleh banyak kawula muda: Tik-Tok. Bahkan aplikasi ini tidak hanya dipakai oleh kawula muda saja, ada beberapa pengguna yang penulis temui, baik di media sosial maupun secara nyata juga telah berusia paruh baya.

Dari sana penulis yakini bahwa joget ria yang mereka lakukan memiliki tujuan untuk dijadikan konten di Tik-Tok. Memang mungkin kesimpulan yang penulis tarik agaknya kurang memiliki bukti yang cukup, karena bisa jadi tarian yang mereka lakukan adalah untuk konsumsi pribadi atau mungkin memang untuk membuat konten namun menggunakan platform lainnya.

Fenomena ini tentu sudah bukan lagi menjadi hal yang asing di kebanyakan kalangan masyarakat, dan sudah pasti penerimaan masyarakat bervariasi.

Ada yang merasa bahwa fenomena joget di Tik-Tok adalah bentuk ekspresi kaum muda masa kini, dan menjadi hal yang sewajarnya. Pun hal ini tidak sedikit ditolak dan dikecam berbagai masyarakat khususnya warganet.

Berbicara mengenai penolakan, terdapat komentar yang juga beragam. Mulai dari anggapan sebagai tanda dekadensi moral, cari sensasi, membuang waktu, hingga pada tahapan yang lebih tinggi lagi yaitu menganggap bahwa ini sebagai konspirasi.

Dulu, penulis termasuk dipihak yang menolak, karena penulis menganggap bahwa konten yang ada di Tik-Tok menampilkan sesuatu yang tidak pantas untuk diperlihatkan di muka publik. Bahkan, penolakan yang penulis lakukan berujung menghukumi haram untuk diri penulis apabila memasangnya.

Namun saat ini, anggapan tersebut membuat penulis merasa bodoh. Penulis merasa tercerahkan ketika teringat pada analogi pisau dapur, ketika pisau ini digunakan oleh penjahat maka penggunaannya dapat diyakini adalah untuk menakuti hingga menyakiti orang lain, dan apabila digunakan oleh ibu rumah tangga maka penggunaannya dapat diyakini adalah untuk memasak, dan menjadi makanan yang lezat hingga mengenyangkan.

Berdasarkan analogi tersebut, apabila Tik-Tok digunakan dengan tepat, maka akan menguntungkan bagi penggunanya hingga orang lain. Begitu sebaliknya, bila digunakan dengan cara, dan tujuan yang kurang benar maka akan berakibat negatif bagi penggunanya.

Hal ini juga berangkat dari kesepakatan penulis dengan nasihat Pak Prabowo untuk Indonesia agar mencontoh China. Nasihatnya seperti ini, “So kita harus lihat contoh yang berhasil. Bukan berarti kita mau … disana kan yang berkuasa partai komunis. Ideologinya kita tidak ambil, kita ambil yang baiknya.”

Pernyataan tersebut beliau sampaikan di podcast Mas Deddy Corbuzier yang sempat membuat beberapa orang terkejut, karena telah lama Pak Prabowo tidak hadir berbicara ke publik setelah menerima tawaran menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia.

Dengan nasihat tadi, penulis semakin yakin bahwa menolak Tik-Tok, bahkan sampai menghukumi-nya adalah bentuk kurang pandainya penulis dalam menggunakan aplikasi dengan tepat.

Padahal kalau kita telaah lebih dalam mengenai Tik-Tok, banyak sekali konten-konten positif yang bermuatan edukasi, seperti tutorial videografi, fotografi, hingga pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bisa menambah wawasan.

Hanya saja, pengetahuan yang didapat melalui platform tersebut tetap harus melalui fase validasi dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apalagi, Tik-Tok menjadi media yang banyak digunakan oleh pemuda sehingga hal tersebut bisa menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha untuk dapat mempromosikan produk yang pemuda-able dengan mudah dan jangkauan yang lebih mengenai sasaran. Dengan kata lain, dapat berdampak positif bagi kemajuan ekonomi serta UMKM di Indonesia.

Melalui sudut pandang ini tentunya tidak hanya berlaku untuk aplikasi Tik-Tok, malah berlaku untuk semua aplikasi media sosial lainnya, bahkan dalam kehidupan manusia pun perlu ditanamkan sudut pandang positif yang berarti melihat sesuatu dengan sudut pandang kebermanfaatannya.

*Penulis adalah Kader PII dan mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Baturaja Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait