“Mengapa Gambut dan Tumbuhan Endemik Adalah Warisan Mutlak Gen Alfa?”
Oleh : Gatot Sultan
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Sumatera Selatan bukan sekadar bentang peta dengan garis-garis sungai yang membelah daratan. Di balik riuh mesin industri dan gemerlap Palembang, terdapat sebuah “perpustakaan purba” yang basah, gelap, namun menyimpan rahasia kehidupan,”Rawa Gambut”.
Sayangnya, selama puluhan tahun, kita memandang gambut dengan kacamata yang salah. Kita melihatnya sebagai lahan marginal yang “perlu dikeringkan” agar produktif. Padahal, gambut adalah cara bumi bernapas. Bagi saya, menjaga gambut bukan sekadar urusan aktivisme lingkungan, melainkan sebuah bentuk cinta kasih spiritual terhadap tanah air yang telah menghidupi leluhur kita.
Gambut Bukan Sekadar Lumpur Tapi Tabung Oksigen Masa Depan
Gambut adalah ekosistem yang rendah hati. Ia diam, namun fungsinya raksasa. Bayangkan sebuah spons raksasa yang mampu menyerap karbon ribuan kali lebih efektif dibanding hutan biasa. Di bawah permukaan air yang berwarna cokelat teh itu, tersimpan tumpukan materi organik yang mencegah bumi kita “demam” lebih parah.
Ketika kita merusak gambut, kita bukan hanya menghancurkan tanah; kita sedang merobek paru-paru Sumatera Selatan. Kehilangan gambut berarti melepaskan “BOM KARBON” ke atmosfer yang akan diwarisi oleh anak cucu kita dengan harga yang sangat mahal.
Pusaka Hijau yang Mulai Terlupakan
Di sela-sela labirin gambut tersebut, tumbuh para penghuni asli tumbuhan endemik yang hanya bisa ditemukan di sini. Contohnya Kita bicara tentang:
Jelutung Rawa: Sang raksasa yang getahnya dahulu menjadi primadona.
* Ramin: Kayu eksotis yang kini keberadaannya kian sunyi.
* Berbagai jenis Nepenthes (Kantong Semar): Keajaiban evolusi yang menangkap serangga untuk bertahan hidup di lahan asam.
Mencintai tumbuhan ini bukan berarti sekadar mengagumi bentuknya dari balik layar ponsel. Ini tentang menyadari bahwa setiap spesies yang punah adalah satu bab sejarah Bumi Sriwijaya yang hilang selamanya. Tanpa mereka, identitas alam kita akan menjadi seragam dan membosankan.
Gen Alfa (Sang “Avatar” Pelestari Bumi)
Jika generasi sebelumnya seringkali menjadi perusak atas nama pembangunan, maka Gen Alfa (anak-anak yang lahir di era digital penuh) adalah harapan terakhir kita. Mereka tidak boleh hanya lihai menggunakan algoritma, tapi juga harus mahir “membaca” alam.
Mengapa Gen Alfa? Karena mereka tumbuh di era di mana krisis iklim bukan lagi dongeng, melainkan kenyataan di depan mata. Kita perlu menanamkan Kesadaran Cinta Kasih, sebuah pendekatan yang tidak kaku, tidak penuh perintah, melainkan pendekatan emosional yang menyentuh nurani.
“Menjaga gambut bukan karena takut didenda, tapi karena kita mencintai aroma tanah sehabis hujan dan suara burung di tengah rawa.”
Menuju Masa Depan
(Bukan Warisan Uang, Tapi Warisan Alam)
Kita perlu mengubah narasi. Pelestarian tidak boleh terasa seperti beban kurikulum sekolah yang membosankan. Kita harus menjadikan “Gambut dan tumbuhan Endemik” sebagai simbol keren bagi Gen Alfa. Bayangkan mereka menjadi agen perubahan yang menggunakan teknologi untuk memantau restorasi gambut, atau menjadi storyteller digital yang mengampanyekan pentingnya flora lokal.
Masa depan Bumi Sriwijaya tidak ditentukan oleh seberapa banyak beton yang kita cor, melainkan oleh seberapa luas rawa gambut yang berhasil kita jaga agar tetap basah dan seberapa banyak pohon endemik yang kembali berakar di tanahnya sendiri.
Ini adalah surat cinta untuk tanah ini. Sebuah ajakan untuk berhenti sejenak, melihat ke arah rawa, dan berkata: “Maafkan kami yang dulu abai, kini giliran kami menjagamu.”
Salam Budaya
Seni Kesadaran
RUMAH ASPIRASI BUDAYA














