MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Di balik rimbunnya hutan Embaloh Hilir, masyarakat Dayak Kantuk Desa Belatung menjaga warisan leluhur lewat anyaman tikar rotan. Produk kerajinan ini mulai dilirik pasar luar daerah karena ukuran dan motifnya khas, meski produksinya masih terbatas.
Satu lembar tikar rotan berukuran panjang 3 meter dan lebar 1,5 meter dijual dengan harga Rp 650 ribu. Harga tersebut sebanding dengan proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu hingga sepekan.
“Ya, masyarakat Dayak Kantuk di Desa Belatung, Embaloh Hilir yang buat. Ini kerajinan turun-temurun,” kata Bg Yayat, warga yang membantu pemasaran produk, Minggu (26/4/2026).
*Dari Hutan ke Ruang Tamu: Proses Panjang Tikar Rotan*
Bahan baku utama tikar ini adalah rotan pilihan yang diambil langsung dari hutan sekitar Embaloh Hilir. Rotan dipilah, dibelah, diraut hingga tipis, lalu dijemur beberapa hari sampai benar-benar kering.
Setelah kering, rotan diwarnai menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Baru setelah itu proses menganyam dimulai. Pola anyaman Dayak Kantuk dikenal rapat, simetris, dan kuat. Motifnya terinspirasi dari alam dan simbol-simbol adat.
Untuk ukuran 3 x 1,5 meter, satu pengrajin butuh waktu 5–7 hari menganyam nonstop. Jika dikerjakan sambil bertani, bisa 2 minggu baru jadi satu lembar.
*Produksi Fluktuatif: 5 Sampai 20 Lembar per Periode*
Kapasitas produksi tikar rotan ini belum stabil. Jumlahnya sangat bergantung pada musim, ketersediaan rotan di hutan, dan waktu luang pengrajin.
“Ndak tentu mas, kadang bisa 20 lembar, kadang hanya 5 lembar penjualan perbulannya,” ujar Yayat saat berbincang – bincang dengan wartawan Mattenews.co.
Yayat ceritakan dalam proses produksi Musim hujan jadi kendala utama karena pengrajin sulit mencari rotan dan proses penjemuran tidak maksimal.
“Sementara saat kemarau, produksi bisa digenjot lebih banyak. Mayoritas pengrajin adalah ibu-ibu rumah tangga yang menganyam saat tidak ke ladang, “tutur Yayat.
*Diburu untuk Adat dan Koleksi*
Meski harga Rp650 ribu tergolong premium untuk ukuran tikar, pembelinya tetap ada. Pasar utama tikar rotan jumbo ini ada tiga:
1. *Keperluan adat*: Digunakan sebagai alas di rumah betang/lamin saat gawai atau ritual Dayak.
2. *Kolektor & pecinta kriya*: Diburu karena motif autentik dan nilai budayanya.
3. *Hotel & resort*: Dipakai sebagai elemen dekor etnik Kalimantan.
“Ukuran 3 meter ini jarang. Biasanya yang di pasar cuma 2 meter. Jadi banyak yang cari buat acara besar,” tambah Yayat.
*Tantangan: Regenerasi dan Akses Pasar*
Yayat mengungkap tantangan terbesar kerajinan tikar rotan Belatung ada dua. Pertama, regenerasi pengrajin. Anak muda Dayak Kantuk mulai jarang yang mau belajar menganyam karena dianggap lama dan hasilnya tidak langsung terasa.
“Kedua, akses pasar. Selama ini penjualan masih mengandalkan dari mulut ke mulut dan WhatsApp. Pengrajin belum masuk e-commerce atau pameran besar karena keterbatasan jumlah produksi dan modal promosi, “tuturnya.
Untuk penjualan, kata Yayat bisa para pembeli langsung datang ke Kios Kedamin United jalan Lintas Selatan, Kelurahan Kedamin Hilir Kecamatan Putussibau Selatan.
“Selain itu, melalui WhatsApp 0816-4924-9777 kita bisa juga melayani pemesanan keluar daerah, “kata Yayat.
Sementara itu, Plt. Kadisporapar Kapuas Hulu, Ade Hermanto, S.K.M., M.A.P., menyebut kerajinan seperti ini masuk kategori ekonomi kreatif yang akan didorong.
“Produk kriya Dayak punya nilai jual tinggi kalau kemasan dan pemasarannya tepat. Tikar rotan Belatung ini potensial sekali jadi suvenir premium Kapuas Hulu,” ujarnya.
Dikatakan Ade, pemerintah daerah melalui Disporapar dan Disperindagkop berencana memfasilitasi pelatihan desain, pewarnaan modern, hingga digital marketing agar tikar rotan Dayak Kantuk naik kelas tanpa kehilangan nilai tradisinya.
“Dengan kualitas anyaman yang kuat dan tahan puluhan tahun, tikar rotan dari Desa Belatung ini bukan sekadar alas duduk. Ia adalah narasi hidup masyarakat Dayak Kantuk yang menenun identitas di setiap helai rotan, “pungkasnya mengakhiri. (*)














