MATTANEW.CO, PALEMBANG – Aksi tak menghebohkan Markas Polda Sumatera Selatan terjadi Senin (6/7/2026) sekitar pukul 20.15 WIB. Seorang pria bernama Dai Risky Hidayat (24) masuk membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid dan meneriakkan takbir di areal Mako Polda Sumsel, Palembang. Sekejap itu juga langsung diamankan, Selasa (7/7/2026).
Petugas yang berjaga langsung bergerak cepat mengamankan pria tersebut guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan di lingkungan markas kepolisian.
Saat dilakukan pemeriksaan awal, petugas menemukan sejumlah barang yang dibawa Dai, di antaranya sebuah bendera bertuliskan kalimat tauhid dan gunting. Selain itu, ditemukan pula selembar kertas yang berisi dua nomor telepon yang diduga berkaitan dengan tujuan kedatangannya ke Mapolda Sumsel.
Dari hasil pemeriksaan sementara, Dai Risky Hidayat diketahui merupakan lulusan SMA yang sehari-hari mengaku bekerja sebagai tukang parkir.
Kepada petugas, Dai memberikan keterangan yang tidak biasa. Ia mengaku sengaja datang ke Polda Sumsel dengan maksud meminjam helikopter.
Menurut pengakuannya, keinginan tersebut muncul karena ia mengaku mengikuti arahan yang didapat dari mimpinya.
Ia mengatakan ingin menggunakan helikopter tersebut untuk mengantar dua orang yang nomor teleponnya tertulis di secarik kertas menuju “utopia”.
Dalam keterangannya kepada petugas, Dai juga mengaku sering diejek dan dihina oleh dua orang yang dimaksud. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti hubungan antara pelaku dengan pemilik nomor telepon tersebut maupun motif sebenarnya di balik aksi yang dilakukannya.
Petugas kemudian membawa Dai untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut guna mendalami latar belakang serta memastikan motif dari tindakannya.
Polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap barang-barang yang dibawa pelaku saat memasuki kawasan Mapolda.
Peristiwa tersebut sempat menjadi perhatian personel yang sedang bertugas. Beruntung, aksi pria tersebut dapat segera dihentikan sehingga situasi keamanan di lingkungan Polda Sumsel tetap kondusif dan tidak menimbulkan korban maupun kerusakan.
Di sisi lain, peristiwa ini juga memunculkan sorotan terkait sistem deteksi dini dan kewaspadaan keamanan di kawasan objek vital kepolisian.
Sejumlah pihak menilai deteksi dini intelijen seharusnya mampu memberikan peringatan awal (early warning) terhadap potensi gangguan keamanan maupun aktivitas mencurigakan yang mengarah ke markas kepolisian.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut, termasuk memeriksa kondisi kejiwaan pelaku apabila diperlukan serta menelusuri maksud dari pengakuan yang disampaikannya selama pemeriksaan.














