Polres Blitar Ciduk Perakit Senapan Angin Berkaliber 9 mm

  • Whatsapp
Polres Blitar menyita senjata angin rakitan yang diproduksi di Kabupaten Blitar Jatim (Robby / Mattanews.co)
Polres Blitar menyita senjata angin rakitan yang diproduksi di Kabupaten Blitar Jatim (Robby / Mattanews.co)

MATTANEWS.CO, BLITAR – Satreskrim Polres Blitar Jawa Timur (Jatim), membongkar aktivitas perakitan senapan angin di Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar.  Perakitan senjata angin tersebut, diduga tidak memiliki izin untuk memproduksi senjata.

Bacaan Lainnya

WD (35), warga Kabupaten Blitar Jatim, akhirnya diciduk aparat kepolisian. Karena dari tangan dialah, banyak senjata angin yang diproduksinya.

Kapolres Blitar Kota AKBP Yudhi Heri Setiawan mengatakan, perakitan senapan angin sudah beroperasi sejak enam tahun yang lalu.

Selain membuat senapan angin berkaliber 4,5 mm, WD juga membuat senapan angin dengan kaliber 5,5 mm, 6,35 mm, 8 mm hingga 9 mm.

“WD memproduksi senapan angin di sebuah gubuk di tengah sawah. Sehingga, tidak banyak warga yang mengetahui aktivitas WD,” ucapnya, Kamis (3/6/2021).

Setiap minggu, WD dengan dibantu empat pekerjanya dapat merakit 5-6 unit senapan angin. Harga jual senapan angin tersebut, mulai dari Rp 1.2 juta hingga Rp 2,3 juta per unit. Untuk setiap unitnya, WD mendapat keuntungan Rp200.000 hingga Rp300.000.

“Penjualan senapan angin ini melalui online, yang dipasarkan melalui media sosial Facebook,” katanya.

Di bengkel tempat perakitan senjata angin tersebut, polisi menyita barang bukti 135 unit senapan angin dan beberapa alat yang digunakan untuk memproduksi senapan angin.

Baca Juga : Herman Deru dan Kang Emil Tinjau Lokasi Islamic Center, Pasar Cinde dan Bantaran Sungai Musi

Saat diinterogasi, WD mengaku belajar membuat senapan angin dari seorang warga di Kecamatan Srengat. Bahkan, untuk mendatangkan bahan baku, WD juga mendapatkan dari Kecamatan Srengat.

Untuk senapan angin yang berkaliber 8 mm dan 9 mm, diakuinya hanya diproduksi jika ada pesanan saja.

Pemesan senapan angin berkaliber tinggi itu, kebanyakan dari luar pulau, seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan, untuk berburu babi,” ucap WD.

Atas perbuatannya, WD dijerat dengan Undang-Undang (UU) Darurat, Nomor 12 Tahun 1951, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait